Aceh Besar – Sosok petani yang tergolong sangat muda ini telah berhasil menjadi penyedia beberapa komoditi unggulan untuk kebutuhan pasar yang merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat.
Pemuda kelahiran 10 Maret 1991 ini berdomisili di Desa Tungkop, Aceh Besar. Radhie Nour Ambiya merupakan alumni SMK-PP Saree Aceh 2008 jurusan perkebunan, selanjutnya melanjutkan kuliah dengan mendapat program beasiswa D3 di Politeknik Agro Industri Subang, Jawa Barat dan selesai tahun 2011.
Sejak 2013, Ia memanfaatkan lahan seluas 3.000 meter persegi di gampong Angan Aceh Besar untuk menanam beberapa komuditi sayuran unggulan diantaranya kangkung dan bayam cabut serta beberapa sayuran penyeimbang antara lain sawi, selada, terong, tomat, cabe dan kacang.
“Saat ini, kita sudah stay produksi untuk bisa dipanen setiap hari, karena sudah kita bagi lahan menjadi 3 blok. Setiap blok memiliki 30 bedeng,”jelas Radhie.
Bersama seorang asisten, Ia mengaku mampu menanam dan memanen setiap hari untuk dijual kepada pengepul dengan pendapatan rata-rata Rp.200.000 hingga Rp.500.000 perhari. “Selain distribusi lewat pengepul, kita juga sediakan bagi masyarakat untuk beli panen langsung ditempat dan kini sudah mulai merambah pemasaran online,”katanya.
Ia menjelaskan bahwa siklus metode berkebun yang ia terapkan saat ini sudah mandiri dengan menciptakan benih sendiri dan pemanfaatan pupuk organik olahan padat dan cair. “Awalnya menggunakan pupuk kimia 25%, tapi saat ini kita sudah menggunakan pupuk organik olahan padat dan cair,”ujar Radhie.
Pemuda anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Suardi Ishak dan Mushallina ini mengaku tidak ada kendalah yang berarti dalam bertani. “Hanya ada tantangan, soal air tinggal menggali sumur dan membuat penampungan, soal hama babi misalnya dengan memagar, persoalan pemasaran dengan membuka jaringan dan membaca pasar,”katanya penuh semangat.
Sebagai sosok yang memiliki ilmu pertanian, pernah diikutsertakan oleh Distanbun Aceh untuk magang di Shongkla, Thailand dan sudah menuai hasil dari berkebun. Ia mengajak para milennial untuk menerapkan ilmu apapun yang telah diperolah.
“Praktekkan ilmu apapun yang kita miliki, akan bermanfaat tidak hanya bagi pribadi dan orang lain, tetapi juga menjadi sedekah jariah bagi guru yang telah mengajarkan kita,” tutup Radhie.






