Mediasatunews.com | Aceh Barat – Festival Nipah 2025 akan digelar pada 28–30 Oktober 2025 di Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Agenda budaya ini menjadi upaya revitalisasi tradisi serta pengetahuan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem rawa nipah.
Penyelenggaraan festival dilakukan oleh masyarakat Suak Timah dan mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Pemajuan Kebudayaan, khususnya bidang penguatan kapasitas serta kelembagaan budaya.
Keuchik Suak Timah, Drs. Afdhal, menyebutkan bahwa Festival Nipah menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi yang sempat melemah pascatsunami 2004.
“Sejak dahulu masyarakat kami berteman akrab dengan nipah sebagai sumber penghidupan. Hubungan budaya itu sempat memudar setelah tsunami. Karena itu, peran masyarakat sangat besar dalam merawat budaya yang kita warisi bersama,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat yang memberi dorongan baru bagi masyarakat.
Sementara itu, Mukhsin, Daya Desa Suak Timah, menekankan pentingnya menempatkan kebudayaan sebagai ruh pembangunan desa.
“Suak Timah memiliki potensi besar dari sisi alam dan budaya; tinggal bagaimana warga mengelolanya. Jangan sampai kita terpaku pada hal-hal yang kasat mata, sehingga melupakan nilai, praktik, dan pengetahuan yang menjadi kekuatan utama masyarakat,” katanya.
“Jika warga menjadi subjek, jika warisan leluhur dihargai, dan kesadaran kolektif dibangun, maka kebudayaan akan tumbuh dan bertahan. Ia hidup karena dijalankan, bukan hanya dicatat.”
Festival Nipah 2025 akan menghadirkan berbagai agenda utama, seperti Pawai Budaya, Piasan Suak, Rawon Paya Nipah, Meusahoe–Meurunoe, Kenduri Rakyat, permainan tradisional, Pameran Budaya, serta Pasar Budaya yang menampilkan kuliner, kriya, dan produk lokal berbasis nipah.
Melalui penyelenggaraan ini, Festival Nipah diharapkan menjadi ruang perayaan sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat pesisir rawa nipah di Aceh Barat. Selain merawat pengetahuan lokal, festival ini diharapkan berkembang menjadi agenda tahunan yang mendorong pemajuan kebudayaan di tingkat desa secara berkelanjutan.






