RSU Cut Meutia Aceh Utara Diduga Telantarkan Pasien Kurang Mampu

Fatimah, warga Gampong Alue Dua, Nisam Antara, Aceh Utara. (Foto: Dok. FB Muadi Buloh)

ACEH UTARA – Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSU Cut Meutia) Aceh Utara diduga menelantarkan seorang pasien kurang mampu bernama Fatimah yang mengalami kecelakaan tertancap serpihan batang pinang di wajah, Senin, 27 Maret 2023.

Warga Gampong Alue Dua, Nisam Antara, Kabupaten setempat tersebut dirujuk ke RS plat merah itu menjelang siang dan ditangani oleh Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Informasi ini beredar luas di jagat maya khususnya pengguna facebook di Kabupaten Aceh Utara seperti yang terlihat di postingan akun FB Imran Pase dan Muadi Buloh.

Menurut pengakuan keluarga pasien di akun FB Muadi Buloh, setiba di IGD pasien tidak diberikan penanganan medis memadai selain diberikan tindakan rontgen oleh salah seorang dokter yang bertugas piket di hari itu.

“Kami harus bertengkar lebih dahulu dengan petugas disana baru ada penanganan, keluarga sudah meminta untuk dirujuk ke RSUDZA namun pihak RSU Cut Meutia beralasan tidak ada supir ambulan,” ujar Amanda Dewi, salah seorang keluarga pasien di akun FB Muadi Buloh, 27 Maret 2023.

Mirisnya, kata Amanda, pasien dirujuk dengan ambulan yang masuk kategori tidak layak. Kemudian, tidak ada seorangpun perawat yang mau membantu memasang oksigen hingga memapah pasien ke mobil ambulan.

Pasien tersebut baru dirujuk ke RSUDZA sekira pukul 21.00 WIB menggunakan ambulan setelah didesak pihak keluarga.

“Waktu dimasukkan ke ambulan, tidak ada perawat yang bantu satupun, yang bantu naikkan ke ambulan dua orang yang berkunjung,” tandas dia.

Klarifikasi RSU Cut Meutia

Sementara itu, Direktur RSU Cut Meutia dr Boyhaki melalui Humas RS setempat, dr Harry Laksamana membantah Rumah Sakit milik pemerintah itu telah menelantarkan pasien di IGD.

Kata Harry kepada mediasatunews.com, pasien bernama Fatimah dengan kondisi wajah tertancap serpihan kayu masuk ke IGD menjelang salat zuhur dan ditangani oleh dokter jaga.

Pasien, tambah Harry, ditempatkan di ruang isolasi IGD untuk menghindari kerumunan dan tidak tergabung dengan pasien lain di IGD.

Dikatakan Harry, pasca mendapat lampu hijau dari RSUDZA sekira pukul 18.00 WIB untuk proses rujuk. RSU Cut Meutia langsung mempersiapkan rujukan ke RSU Zainal Abidin dan sekira pukul 20.30 pasien diberangkatkan menggunakan ambulan yang tersedia.

“Salah jika disampaikan pasien tidak diberikan penanganan apapun. Dari siang pasien masuk sudah dilihat oleh dokter bedah. Sudah dilakukan pembersihan luka sembari kami menunggu konfirmasi dari RS Zainal Abidin karena pasien butuh ditangani oleh dokter bedah plastik dan kita tidak memiliki dokter bedah plastik,” kata Harry per telepon, Selasa siang, 28 Maret 2023.

Terkait dengan keluhan keluarga pasien yang menyebutkan pasien dirujuk menggunakan ambulan yang tidak layak sementara disana tersedia ambulan lain yang lebih memadai, Harry memberikan penjelasannya.

“Supir di RSU Cut Meutia menggunakan sistem shift atau piket tiga waktu, dan kebetulan saat pasien dirujuk armadanya melekat ke supir itu, jadi armada itu yang dia gunakan dan bukan kami membeda-bedakan pasien dengan kendaraan tertentu,” ungkap Harry.

Ditambahkan Harry, setiap supir menggunakan inventaris masing-masing yang melekat kepada mereka. Dan itu sudah diatur oleh Kasubbag Umum RS tersebut.

“Saya lupa kami memiliki berapa armada ambulan, yang jelas setiap supir sudah memiliki ambulan masing-masing sehingga saat pasien itu dirujuk ya dia menggunakan kunci mobil yang melekat ke dia,” tutup Harry.

Informasi dihimpun mediasatunews.com saat ini pasien sudah diambil tindakan oleh pihak RSUD Zainal Abidin.