SIMEULUE – Meski Kabupaten Simeulue dikelilingi laut dan memiliki kekayaan laut seperti ikan, lobster, dan gurita yang melimpah. Namun hasil tangkapan nelayan di kabupaten kepulauan itu masih sangat terbatas.
Sejak puluhan tahun silam, nelayan di Kabupaten itu masih menggunakan perahu tradisional yang dibantu dengan mesin untuk menangkap ikan.
Sehingga membuat nelayan tidak bisa jauh dan berlama-lama berada di laut untuk menangkap ikan. Apalagi saat cuaca buruk melanda perairan Simeulue, nelayan akan cepat kembali ke darat dan sementara waktu berhenti melaut menunggu cuaca kembali membaik.
“Perahu inilah yang menjadi kendala kita, paling lama kita bisa di laut dua hingga tiga hari, itupun tergantung cuaca dan ketahan es batu di dalam perahu. Sehingga berdampak pada penghasilan kita menangkap ikan,” kata M Nur, seorang nelayan di Simeulue, Jumat, 12/11/2021.
Berbeda dengan nelayan luar Simeulue yang telah memiliki alat tangkap ikan yang lebih modern, dan bisa berhari-hari di laut untuk menangkap ikan.
“Kadang kita iri melihat nelayan luar, ikan hasil tangkapan mereka nilainya bisa puluhan juta, sedangkan kita hanya sebatas bisa menutupi belanja hari-hari,” ungkap M Nur.
Disampaikan M Nur, penghasilan nelayan Simeulue jika di rata-ratakan paling besar Rp 200 hingga 300 ribu perharinya. Itupun tidak setiap hari didapat dan masih dipotong uang minyak, makan dan kebutuhan lainnya.
Jikapun ada nelayan yang pendapatannya diatas itu, hal ini karena mereka memiliki keahlian khusus untuk menangkap ikan berharga mahal seperti tuna dan layaran serta ikan mahal lainnya.
“Ada memang nelayan kita yang bisa mendapatkan uang hingga jutaan rupiah, tapi tidak banyak, hanya yang memiliki keahlian khusus,” kata M Nur.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Simeulue, Carles, mengatakan. Pemanfaatan potensi perikanan di Simeulue saat ini masih sangat kurang, ini disebabkan alat tangkap milik nelayan Simeulue masih sederhana.
Carles mengatakan dari potensi 74 ribu ton per tahun tersebut, yang bisa dimanfaatkan hanya 20 ton atau sebesar 27 persen oleh 3.950 nelayan yang terdata di Kabupaten Simeulue.
“Potensi laut kita masih belum bisa digali dengan maksimal, keterbatasan alat tangkap nelayan serta fasilitas lain yang kurang memadai menjadi penyebabnya,” ujar Carles.
Carles mengatakan Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Simeulue terus berupaya meningkatkan hasil tangkapan nelayan dengan melakukan berbagai upaya.
“Salah satunya kita menambah armada tangkap bagi nelayan, serta memberikan pendidikan bagi sumber daya manusia bagi nelayan kita,” pungkas Carles.






