Kewajiban untuk Salat Maghrib Terbaikan di Banda Aceh Experience City Expo 2026, Pemko Dinilai Gagal Tegakkan Syariat

Kewajiban untuk Salat Maghrib Terbaikan di Banda Aceh Experience City Expo 2026, Pemko Dinilai Gagal Tegakkan Syariat
Keramaian di Banda Aceh Experience City Expo 2026 abaikan kewajiban untuk shalat Magrib. [Foto: Istimewa]

Banda Aceh – Membludaknya pengunjung dalam kegiatan Banda Aceh Experience City Expo 2026 yang digelar di Blang Padang, Banda Aceh, Rabu (22/4/2026), menyisakan sejumlah catatan penting.

Salah satunya adalah minimnya fasilitas musala yang dinilai tidak seimbang dengan jumlah pengunjung yang hadir, terutama saat waktu salat Maghrib tiba.

Pantauan media ini di lokasi, para masyarakat tampak memadati area sejak sore hingga malam hari.

Beragam kegiatan hiburan, stan kuliner, hingga panggung pertunjukan memang menjadi daya tarik utama, namun ketika azan Maghrib berkumandang, sebagian pengunjung terlihat tetap melanjutkan aktivitas tanpa bergegas untuk menunaikan salat.

Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya fasilitas ibadah yang tersedia. Musala yang ada terlihat tidak mampu menampung jumlah jamaah, sehingga sebagian pengunjung terpaksa mencari tempat alternatif, bahkan ada yang akhirnya mengurungkan niat untuk salat tepat waktu.

Seorang pengunjung, Rahma (32), mengaku kesulitan menemukan tempat ibadah yang layak di tengah keramaian tersebut. “Tadi sempat cari musala, tapi penuh sekali. Harusnya panitia sudah mengantisipasi karena ini acara besar,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan pengunjung lainnya yang berharap penyelenggara lebih memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya fasilitas ibadah.

Menurutnya, kegiatan berskala besar seperti ini seharusnya tidak hanya fokus pada hiburan, tetapi juga memperhatikan aspek kenyamanan dan nilai-nilai keagamaan.

Minimnya kesadaran sebagian pengunjung untuk melaksanakan salat di tengah berlangsungnya acara juga menjadi sorotan.

Sejumlah masyarakat menilai kondisi ini menunjukkan perlunya edukasi dan pengingat yang lebih masif, baik dari Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh maupun pihak terkait, agar masyarakat tetap menjalankan kewajiban ibadah meski berada di ruang publik.

Selain itu, panitia diharapkan dapat menyediakan fasilitas musala tambahan yang representatif, termasuk area wudu, penunjuk arah, serta pengeras suara yang menginformasikan waktu salat. Dengan demikian, pengunjung tidak kesulitan dan dapat menjalankan ibadah dengan nyaman.

Perayaan HUT kota sejatinya menjadi momentum kebersamaan dan kegembiraan masyarakat. Namun, keseimbangan antara hiburan dan pemenuhan kebutuhan spiritual tetap menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan, terutama di daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius.