11 Jam Perjuangan, Relawan UTU, UGM, dan PLN Tembus Kampung Terisolir di Bener Meriah

 

Mediasatunews.com | BENER MERIAH – Perjuangan panjang selama 11 jam akhirnya membuahkan hasil. Tim relawan gabungan dari Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Lhokseumawe, dan PLN Lhokseumawe berhasil menembus lokasi terisolir akibat banjir bandang di Kampung Simpur, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.

Medan berat, cuaca dingin, serta kondisi bentangan alam yang rusak pascabanjir membuat perjalanan penuh tantangan. Tim harus melewati tiga jembatan putus, termasuk di kawasan Wih Kanis, yang sempat menimbulkan suasana mencekam. Namun, semangat kemanusiaan mengalahkan rasa lelah.

“Bukan rasa lelah yang kami rasakan, tapi kebahagiaan dan haru melihat ketegaran warga menghadapi bencana. Selama satu bulan terakhir, kampung ini baru menerima bantuan helikopter sebanyak tiga kali,” ujar Ketua Tim Relawan, Heri Darsan, Jumat.

Perjalanan dimulai dari mess relawan di Rembele pada pukul 09.05 WIB. Setibanya di jembatan putus Wih Kanis, tim kembali menghadapi kendala dengan harus mencari kendaraan jenis pick up untuk menuju jembatan putus kedua. Proses bongkar muat logistik dilakukan berulang kali di setiap titik jembatan putus.

Pada pukul 13.23 WIB, logistik berhasil dievakuasi ke seberang untuk pengiriman tahap pertama. Selanjutnya, logistik dilangsir menggunakan sepeda motor trail melewati satu jembatan darurat dari kayu. Pick up kembali menjemput logistik tahap kedua pada pukul 16.45 WIB.

Tim medis dari UGM yang didampingi relawan UTU dan PLN akhirnya tiba di Kampung Simpur pada pukul 17.20 WIB. Setibanya di lokasi, tim langsung membuka posko kesehatan dan melakukan pemeriksaan terhadap warga, termasuk ibu hamil. Dalam waktu singkat, sebanyak 34 pasien berhasil mendapatkan layanan kesehatan.

Logistik tahap kedua tiba sekitar pukul 19.35 WIB. Bantuan yang disalurkan meliputi beras, minyak goreng, ikan asin, sarden, telur, biskuit, pampers, pembalut wanita, selimut, mukena, sajadah, Al-Qur’an, Iqra, obat-obatan, serta mesin genset.

Tim relawan dibagi menjadi dua kelompok karena keterbatasan akses dan jauhnya jarak tempuh. Tim inti menuju Kampung Simpur, sementara tim kedua bertahan di Wih Kanis untuk memastikan seluruh logistik dapat dikirimkan ke lokasi tujuan.

“Sekitar pukul 21.21 WIB, seluruh tim kembali berkumpul dan kembali ke mess relawan di Rembele,” ungkap Irsadi Aristora, salah seorang anggota tim.

Meski dalam kondisi lelah, seluruh relawan tetap tersenyum bahagia karena misi kemanusiaan berhasil dituntaskan. Ke depan, tim memastikan akan melanjutkan tahap berikutnya, yakni pemasangan alat penjernih air bersih dari UGM.

“Hingga kini, air di Kampung Simpur masih keruh dan belum layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Alat penjernih air akan segera dipasang agar warga bisa langsung mengakses air minum yang aman,” tutup Heri Darsan.

Penulis: PutraEditor: Redaksi