Aceh Kembali Miskin, Usman Lamreung Kritik Kinerja Sekda Aceh

Aceh Kembali Miskin, Usman Lamreung Kritik Kinerja Sekda Aceh
Ilustrasi | Pingabay.com

ACEH BESAR – Provinsi Aceh kembali mendapat predikat daerah termiskin di Sumatera berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu dengan angka 15 persen.

Padahal, anggaran untuk pembangunan di Aceh telah menghabiskan dana triliunan rupiah yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus).

Pengamat Politik Aceh Usman Lamreung mempertanyakan kinerja dari Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah dan terutama Sekda Aceh dr. Taqwallah terkait temuan BPS bahwa Aceh masih jauh dari kata sejahtera meski punya anggaran triliunan dari dan Otsus.

Misalnya, kata Usman, dia melihat Sekda Aceh dengan program BEREH nya seperti hanya fokus pada dua instansi Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

“Kesannya, Pak Sekda Aceh mengambil peran para Kadis di dua Dinas itu, padahal itu tugas dan fungsi Kadis,” kata Usman, (18/2).

Salah satu contohnya, sebut Usman, program zikir lima menit via zoom, kemudian dilanjutkan dengan agenda memarahi ASN guru. Hal ini sebut Usman, menjadikan efek dari zikir tidak ada.

“Padahal dengan zikir kita mengharapkan adanya keberkahan, kedamaian, kesejukan, hemat saya, Sekda Aceh salah memposisikan rutinitas zikir tersebut,” Cetus Usman yang juga Dosen di Universitas Abulyatama ini.

Dikatakan Usman, berdasarkan hasil review dirinya dengan beberapa guru yang enggan disebutkan namanya. Sekda Aceh memang sosok yang gila kerja dan oportunis, namun Sekda Aceh dinilai tidak dapat mengayomi rekan kerja dan belum dapat memberikan inspirasi terhadap bawahannya.

“Terobosan beliau tidak dapat berjalan maksimal dikarenakan tidak mampu membangun jaringan dengan stakeholder yang lain, Sekda Aceh seperti One Man Show,” kata Usman lagi.

Dari beberapa sumber yang dihimpun Usman, sapaan Sekda Aceh kepada para guru setiap hari selesai zikir 5 menit dan waktu monitoring 30-40 menit sangat menyita jam belajar siswa dan mempengaruhi proses belajar mengajar.

“Kalau hanya monev vaksin itu cukup sekolah yang melaporkan, zikir pun dari dulu selalu dilaksanakan di Sekolah setiap hari Jumat,” tandas Usman.

“Kami mengharapkan Sekda Aceh tidak hanya fokus pada sekolah dan Puskesmas saja, banyak sektor lain yang butuh dibenahi, agar predikat miskin terhadap Aceh yang kita cintai ini tidak melekat setiap tahunnya,” tutup Usman. (SA)