BANDA ACEH – Mubes ke III Partai Aceh telah selesai dilaksanakan dan Muallem sapaan akrab Muzakir Manaf kembali dipercaya menahkodai Partai Aceh untuk periode 2023-2028 di Hotel Permata Hati, 26 Februari 2023.
Partai Aceh yang lahir pada tahun 2007 ini masih melihat Muallem sebagai sosok yang tidak tergantikan diposisi Ketua Umum secara aklamasi. Sebagai Partai Lokal, patut dinantikan bagaimana eksistensi dan sepak terjang Partai Aceh pada pemilu 2024 mendatang bagaimana mereka mendulang suara rakyat Aceh.
Terpilihnya kembali Muzakir Manaf yang merupakan eks Panglima GAM ini mungkin saja telah mendapat restu dari Tuha Peut Partai Aceh dan dilihat sebagai simbol perjuangan Aceh sehingga dia menjadi calon tunggal di Mubes ke III Partai Aceh 25-26 Februari 2023.
“Restu dari Tuha Peut Partai Aceh menjadi jalan mulus Muallem terpilih secara aklamasi, sehingga tidak ada calon lain yang mencalonkan diri merebut kursi Ketua Umum Partai Aceh,” kata pemerhati politik Aceh, Usman Lamreung di Banda Aceh, Senin, 27 Februari 2023.
Dalam keterangan tertulisnya, Usman Lamreung menyebutkan, Partai Aceh yang notabene lahir dari rahim perjuangan Aceh telah menjalani tiga kali pemilihan umum dan menjadi partai pemenang pemilu di Aceh. Rakyat tentunya ingin Partai Aceh menjadi partai yang bisa memperjuangkan nasib mereka di eksekutif dan legislatif.
Sejumlah permasalahan masih saja muncul di Aceh, mulai dari qanun bendera Aceh yang belum selesai. Kemudian, praktik korupsi masih terjadi, aturan yang tumpah tindih antara Aceh dan Pemerintah Pusat.
Maka wajar rakyat menagih janji-janji pemilu dari petinggi dan politisi Partai Aceh. Qanun Lembaga Keuangan Syariah masih bermasalah, yang paling mengejutkan Pilkada 2022 batal dilaksanakan padahal itu menjadi kewenangan Aceh.
“Bergaining politik Partai Aceh pelan-pelan meredup dan dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Pusat. Padahal seperti kita ketahui, yang mengisi Partai Aceh mayoritas mantan kombatan GAM yang dulu sepakat menjalin damai dengan RI dan kini bernaung dibawah Partai Aceh,” ujar Usman Lamreung.
Kembali terpilihnya Muallem kemudian diharapkan menjadi babak baru Partai Aceh membenahi diri menjelang tahun politik 2024. Partai Aceh sebagai Partai Lokal yang punya basis massa besar diharapkan segera mewujudkan mimpi rakyat Aceh.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir meski memiliki kursi mayoritas di Parlemen, tidak ada terobosan berarti yang dilakukan Partai Aceh untuk menunjukkan bargaining ke Pemerintah pusat.
“Seharusnya selain memilih Ketum, dalam mubes PA wajib dibahas sejumlah permasalahan untuk menjadi bahan evaluasi apa yang telah dilakukan dan apa yang harus diperbaiki dari segi kekurangan. Jangan sampai PA ditinggal pemilih nantinya kalau tidak segera berbenah,” ujar Usman.
Regenerasi Pengurus
Usman Lamreung melihat Partai Aceh harus melakukan regenerasi dalam struktur kepengurusan terbaru dengan melibatkan tokoh-tokoh muda potensial dari kalangan kampus, milenial dengan basis masa besar.
Publik Aceh ingin melihat Partai Aceh sebagai partai yang pro rakyat, pengurus Partai Aceh dari tingkat Kabupaten dan Kota Serta Provinsi tidak harus dari kalangan mantan kombatan.
“Mereka harus mulai merekrut anak-anak muda Aceh yang punya jiwa leadership yang mumpuni untuk menjadi pemimpin dan pengurus di tingkat Kabupaten/Kota bahkan di Provinsi. Kalau tidak segera berbenah maka siap-siap kehilangan kursi di parlemen Aceh,” tutur Usman Lamreung.
Sehingga persepsi masyarakat bahwa Partai Aceh cuma partainya kombatan perlahan akan hilang dan kemudian dapat diisi oleh generasi milenial (gen Z). Wajah-wajah baru yang lebih segar akan membuat masyarakat menaruh kembali kepercayaan untuk kembali memilih Partai Aceh di tahun 2024.
“Proses kaderisasi harus lebih baik untuk proses regenerasi. Kemudian, rata-rata pemilih sekarang sudah sangat paham dunia digital, jadi sedikit saja kesalahan yang dilakukan maka akan menggerus suara partai Aceh. Maka hati-hati menjelang tahun politik, tunjukkan bahwa Partai Aceh memang berjuang untuk rakyat Aceh,” tuntas Usman.






