Mediasatunews.com | Banda Aceh – Menjadi content creator tidak harus menunggu memiliki puluhan hingga ratusan ribu pengikut di media sosial, yang terpenting adalah konsisten menghadirkan konten yang bermanfaat, karena viral hanyalah bonus, sedangkan tujuan utama adalah menyebarkan kebaikan.
Pesan tersebut disampaikan content creator Aceh, Nisfun Nahar atau populer disapa Anis, saat berbagi pengalaman dalam Pelatihan Dakwah Digital Melalui Konten Kreatif Bagi Remaja Masjid se-Kota Banda Aceh yang digelar Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh di Hotel Amel Convention Hall, Banda Aceh, Rabu (15/7/2026).
“Menjadi seorang influencer itu bukan tentang siapa yang paling terkenal, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang bisa memotivasi orang lain melalui hal-hal yang positif,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hampir semua orang telah memiliki telepon pintar dan aktif menggunakan berbagai platform seperti WhatsApp, TikTok, Instagram, hingga YouTube.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan positif, tanpa harus menunggu memiliki banyak pengikut.
“Menjadi seorang content creator itu tidak perlu menunggu punya 100 ribu follower atau 10 ribu follower. Yang harus kita utamakan terlebih dahulu adalah konsisten dalam membuat konten yang positif,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Anis juga membagikan kisah di balik konten membangunkan sahur yang membuat namanya dikenal luas di media sosial.
Ia mengaku konten tersebut bukan dibuat secara instan, melainkan hasil dari konsistensi selama satu dekade.
“Alhamdulillah saya sempat viral karena membangunkan orang sahur pada bulan Ramadan. Tetapi konten itu bukan saya buat satu atau dua tahun. Selama 10 tahun saya konsisten membuat konten membangunkan orang untuk sahur. Saya tidak pernah menyangka akhirnya bisa viral,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan para generasi muda agar tidak mudah menyerah ketika menerima komentar negatif. Menurutnya, kritik dan komentar yang tidak menyenangkan merupakan hal yang wajar bagi seorang kreator konten.
“Jangan pernah berharap semua orang akan menyukai konten kita. Konten yang saya buat pun tetap ada yang memberikan komentar negatif. Itu hal yang biasa,” ujarnya.
Anis menegaskan bahwa seorang kreator tidak perlu terlalu mengejar agar kontennya langsung ramai, masuk FYP (For You Page), atau memperoleh banyak penonton. Fokus utama adalah menjaga konsistensi.
“Insyaallah ketika kita konsisten, perlahan-lahan apa yang kita harapkan, seperti follower, like, dan viewer, akan datang dengan sendirinya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai media sosial kini menjadi ruang dakwah yang efektif, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital.
Karena itu, dakwah tidak lagi hanya dilakukan melalui mimbar masjid, tetapi juga dapat disampaikan melalui konten-konten kreatif yang memberikan manfaat.
“Anak muda sekarang terkadang lebih mudah menerima nasihat atau kajian melalui media sosial daripada harus datang ke pengajian di masjid. Bukan berarti kita tidak perlu mengaji di masjid, tetapi kita juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, siapa pun dapat menjadi penyebar kebaikan melalui media sosial, tanpa harus berprofesi sebagai ustaz atau ustazah.
“Dakwah tidak harus selalu dilakukan oleh ustaz di atas mimbar. Seorang content creator juga bisa menjadi pendakwah melalui konten-konten yang dibuatnya,” tuturnya.
Anis mengajak seluruh generasi muda untuk mengubah orientasi dalam bermedia sosial. Menurutnya, yang harus dikejar bukanlah popularitas, melainkan manfaat yang dapat dirasakan banyak orang.
“Jangan berlomba-lomba untuk viral, tetapi berlomba-lombalah membuat konten yang positif sehingga bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Viral itu bonus, sedangkan membuat kebaikan adalah tujuan, yang paling penting adalah konsistensi,” pungkasnya. []






