Ketua DPRK Banda Aceh: Jangan Cuma Jadi Penonton Saat Ruang Digital Dibanjiri Hal Merusak!

Ketua DPRK Banda Aceh: Jangan Cuma Jadi Penonton Saat Ruang Digital Dibanjiri Hal Merusak!
Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Dakwah Digital Melalui Konten Kreatif Bagi Remaja Masjid se-Kota Banda Aceh yang digelar Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh di Hotel Amel Convention Hall, Rabu (15/7/2026). [Foto: for Media Satu News]

Mediasatunews.com | Banda Aceh – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah ST, mengajak generasi muda, khususnya para remaja masjid di Banda Aceh, untuk tidak sekadar menjadi penonton melainkan aktif menjadi aktor yang bertempur di dunia digital.

Ajakan ini disampaikan Irwansyah saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Dakwah Digital Melalui Konten Kreatif Bagi Remaja Masjid se-Kota Banda Aceh yang digelar Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh di Hotel Amel Convention Hall, Rabu (15/7/2026).

Irwansyah mengatakan, realitas hari ini menempatkan anak muda sebagai pemegang kendali teknologi. Terlebih, bonus demografi menunjukkan bahwa populasi Gen Z dan milenial saat ini mendominasi hingga 60 persen.

“Ketika saya bertemu dengan anak-anak Gen Z, saya selalu bilang, kalian adalah penguasa digital. Manfaatkan dunia digital dengan sebaik mungkin agar pengaruh buruk dari konten negatif bisa dihilangkan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang pasif saat ruang digital kita dibanjiri oleh hal-hal yang merusak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ketua DPRK Banda Aceh ini memetakan empat tantangan besar dan kondisi riil dunia digital yang harus diwaspadai dan disikapi dengan bijak oleh generasi muda.

Pertama, penyebaran hoax atau informasi palsu. Irwansyah mengingatkan seluruh generasi muda untuk ekstra hati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial.

“Kalau kita ikut menyebarkan hoax, hanya asal foward dan share link berita tanpa verifikasi kebenarannya, meski hanya satu huruf, kita sudah menjadi pendusta. Ini gawat. Jadi, bukan hanya mulut yang harus dijaga, tetapi juga jempol,” tegasnya.

Irwansyah bahkan menambahkan bahwa dampak dari fitnah digital sangatlah berat, dimana para pejabat publik mulai dari Wali Kota hingga Gubernur kerap menjadi korban hasutan.

Kedua, cyberbullying (perundungan siber). Tantangan berat lainnya di dunia virtual adalah maraknya cyberbullying. Segala bentuk intimidasi, serangan verbal, hingga perundungan fisik (body shaming) kini menjadi ancaman nyata.

Irwansyah kemudian mencontohkan kasus rasisme siber yang menimpa Timnas Prancis sebagai bukti kejamnya dunia digital. “Hati-hati dengan intimidasi verbal. Kita sering tidak sadar kalau serangan kata-kata itu bisa membunuh. Bahkan ada orang yang nekat bunuh diri hanya karena membaca komentar di media sosial,” tegasnya.

Ketiga, maraknya konten negatif. Ia menyayangkan banyak konten tidak senonoh di berbagai platform sosial media yang dibuat oleh oknum yang mengaku selebgram Aceh.

“Kalau kita tidak meramaikan dengan konten positif, maka jangan marah kalau yang beredar adalah hal-hal negatif. Kita mau ikut bertarung di dunia digital atau sekadar penonton? Kalau kita diam dan tidak ikut bertempur, jangan salahkan fenomena (negatif) seperti LGBT di Banda Aceh,” tegasnya.

Keempat, judi online. Realitas kelam lainnya yang menjadi tantangan besar dan merusak generasi muda di ruang digital hari ini adalah maraknya praktik judi online.

Irwansyah menegaskan bahwa jeratan judi online tidak hanya merusak finansial dan mental anak muda, tetapi juga menjauhkan mereka dari produktivitas. Oleh karena itu, ruang digital harus segera diisi dengan kampanye kreatif dan edukatif agar para remaja tidak terjebak dalam lingkaran setan tersebut.

Gagas Gen Dakwah Digital

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRK Banda Aceh ini juga mendorong para generasi muda, khususnya remaja masjid, untuk melakukan semacam rebranding citra masjid agar tidak menjadi tempat yang menakutkan bagi anak muda.

“Saya ingin sekali hadir ‘Masjid Sejuta Pemuda’ di Banda Aceh. Anak-anak yang sedikit gaul jangan dijauhi, tapi kita rangkul. Jangan buat mereka alergi dengan masjid, buat masjid nyaman dan aman untuk mereka,” tuturnya.

Di sinilah peran penting konten kreator muda untuk menyebarkan pesan-pesan edukatif. Irwansyah berharap Pemerintah Kota Banda Aceh, bersama jajaran eksekutif dan legislatif, dapat membina para konten kreator positif ini melalui sebuah gerakan nyata.

“Saya berharap salah satunya adalah hadirnya Gen Dakwah Digital. Kita ingin ada konten kreator edukatif dan positif yang dibina bersama,” pungkas Irwansyah. []