Sekber JAB Salurkan Bantuan Kemanusiaan Bagi Jurnalis Terdampak di Aceh Tengah

Jurnalis Aceh Barat Antar Bantuan Kemanusiaan ke Rekan Terdampak Banjir Bandang Aceh Tengah

Mediasatunews.com | Aceh Tengah – Solidaritas antarjurnalis ditunjukkan Jurnalis Aceh Barat (JAB) dengan mengantarkan bantuan kemanusiaan kepada rekan seprofesi yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tengah.

 

Rombongan JAB bertolak dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, pada Sabtu siang (10/1/2026). Di tengah perjalanan, rombongan juga menyempatkan diri menyerahkan bantuan kepada dua jurnalis terdampak bencana di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya.

 

Salah seorang jurnalis terdampak, Samsuardi, menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak pascabencana bukan hanya bantuan logistik, tetapi juga kepastian tempat tinggal dan sumber penghidupan bagi keluarga.

 

“Kami di sini sangat membutuhkan hunian sementara maupun hunian tetap. Yang tak kalah penting, kepastian sumber ekonomi untuk menghidupi keluarga kami,” ujar Samsuardi saat menerima bantuan dari JAB.

 

Perjalanan solidaritas JAB kemudian dilanjutkan ke Aceh Tengah. Setibanya di lokasi, rombongan mengawali kegiatan dengan silaturahmi bersama rekan-rekan wartawan setempat, dilanjutkan dengan penyerahan bantuan berupa beberapa karung beras sebagai bentuk kepedulian sesama profesi.

 

Ketua Jurnalis Aceh Barat, Khaidir Azhar, menegaskan bahwa bantuan yang dibawa merupakan buah tangan sederhana dari para jurnalis di Aceh Barat untuk rekan-rekan yang terdampak bencana.

 

“Ini hanyalah buah tangan kepedulian dari teman-teman jurnalis Aceh Barat. Tujuan kami ke sini untuk memperkuat silaturahmi dan melihat secara langsung kondisi riil wartawan di Aceh Tengah dan Bener Meriah,” kata Khaidir.

 

Dalam kesempatan itu, Khaidir juga menyoroti kondisi paling memprihatinkan yang dialami jurnalis di daerah terdampak, yakni adanya tekanan dan intimidasi dalam kerja-kerja jurnalistik pascabencana.

 

“Kami mendengar ada rekan-rekan wartawan yang mendapat tekanan dalam pemberitaan. Intimidasi dari berbagai pihak yang mencoba mengarahkan isi liputan. Namun kita harus tetap semangat. Suara jurnalis harus didengar,” tegasnya.

 

Menurutnya, jurnalis merupakan pekerja sosial yang berperan menyampaikan kondisi masyarakat kepada publik. Karena itu, pemerintah diminta tidak mengabaikan hak-hak yang melekat pada profesi wartawan.

 

Diskusi dan silaturahmi berlangsung hangat. Para wartawan saling berbagi pengalaman dan kisah kehidupan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh Tengah.

 

“Kami seperti hidup di dunia yang berbeda. Harga minyak saja bisa mencapai Rp100 ribu per liter. Namun kami tetap berusaha berkarya, meliput dan memberitakan kondisi masyarakat di sini,” ujar salah seorang perwakilan wartawan Aceh Tengah.

 

Pascabencana, aktivitas jurnalistik di wilayah terdampak nyaris lumpuh. Bukan karena wartawan berhenti bekerja, melainkan terputusnya akses komunikasi dan terisolasinya jalur transportasi yang menghambat seluruh aktivitas peliputan.

 

Solidaritas Jurnalis Aceh Barat ini diharapkan dapat menjadi penguat moral bagi wartawan di daerah terdampak untuk terus bertahan dan menjalankan tugas jurnalistik di tengah keterbatasan.

Penulis: PutraEditor: Redaksi