Mediasatunews.com | Banda Aceh – Pendiri MFF Syndicate, M. Fauzan Febriansyah, menilai mantan Bupati Pidie Jaya, Dr. Said Mulyadi, merupakan salah satu figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin PT Pembangunan Aceh (PT PEMA Perseroda).
Penilaian tersebut didasarkan pada kebutuhan perusahaan akan kepemimpinan strategis dalam menghadapi fase transformasi menuju perusahaan investasi daerah yang mampu mengoptimalkan potensi sektor energi di Aceh.
Menurut Fauzan, pengisian jabatan Direktur Utama PT PEMA tidak semata-mata mempertimbangkan kemampuan manajerial, tetapi juga kapasitas membangun jejaring strategis serta mengoordinasikan kepentingan pemerintah, dunia usaha, dan investor nasional maupun internasional.
“PT PEMA berada pada fase yang sangat menentukan. Perseroan membutuhkan pemimpin yang mampu mengubah potensi sumber daya alam Aceh menjadi investasi produktif, mendorong lahirnya industri baru, serta meningkatkan pendapatan daerah secara berkelanjutan,” ujar Fauzan, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, posisi PT PEMA semakin strategis dalam dua tahun terakhir seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri hilir energi di Aceh. Perseroan juga telah berperan dalam penjajakan pengembangan ekosistem gas bumi melalui kerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN), khususnya dalam penyusunan kajian pemanfaatan gas dari Wilayah Kerja Andaman sebagai fondasi pengembangan industri berbasis gas di Aceh.
Di sisi lain, Pemerintah Aceh terus mendorong agar gas dari Blok Andaman tidak hanya diekspor sebagai komoditas mentah, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri melalui pengembangan kawasan industri di KEK Arun Lhokseumawe. Menurut Fauzan, agenda hilirisasi tersebut merupakan salah satu peluang ekonomi terbesar Aceh dalam beberapa dekade terakhir.
Karena itu, kata dia, PT PEMA membutuhkan pemimpin yang memiliki tiga kapasitas utama, yakni kemampuan membangun komunikasi lintas lembaga dengan kementerian, BUMN energi, SKK Migas, serta investor nasional dan internasional; pengalaman memimpin organisasi besar dengan tata kelola yang kompleks; serta kemampuan memahami arah kebijakan pembangunan nasional agar perusahaan dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong investasi.
Dalam konteks tersebut, MFF Syndicate menilai rekam jejak Dr. Said Mulyadi selama memimpin Kabupaten Pidie Jaya menjadi modal yang relevan. Pengalaman sebagai kepala daerah dinilai memberikan pemahaman mengenai sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, pengelolaan pembangunan, pengambilan keputusan strategis, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Memimpin PT PEMA bukan sekadar mengelola perusahaan. Direktur Utama juga harus menjadi duta investasi Aceh yang mampu membangun komunikasi dengan investor, kementerian, BUMN, hingga mitra internasional untuk memastikan proyek-proyek strategis dapat direalisasikan,” katanya.
Fauzan menambahkan, perusahaan milik daerah saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu. Persaingan dalam menarik investasi semakin ketat, sementara proyek-proyek energi membutuhkan kepastian tata kelola, kepemimpinan yang kredibel, dan kemampuan negosiasi yang kuat.
Menurutnya, PT PEMA memerlukan figur yang tidak hanya memahami aspek bisnis, tetapi juga memiliki legitimasi kepemimpinan, pengalaman birokrasi, kemampuan komunikasi publik, serta jejaring di tingkat nasional.
Ia juga menilai keberhasilan PT PEMA dalam lima tahun ke depan tidak semata diukur dari besarnya dividen kepada Pemerintah Aceh, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pembangunan industri hilir, penciptaan lapangan kerja, penguatan kemitraan strategis, peningkatan investasi, serta tumbuhnya rantai pasok industri lokal.
“Aceh tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil sumber daya alam. PT PEMA harus menjadi motor lahirnya industri baru. Karena itu, perusahaan membutuhkan kepemimpinan yang mampu berpikir melampaui aspek administratif dan membangun ekosistem investasi yang kuat,” ujarnya.
Fauzan menegaskan, transformasi PT PEMA tidak cukup hanya ditopang kompetensi teknis di sektor energi, tetapi juga membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan (trust building) di mata investor, pemerintah pusat, dan mitra strategis.
“Direktur Utama PT PEMA ke depan tidak hanya berperan sebagai chief executive officer, tetapi juga sebagai chief investment ambassador bagi Aceh. Ia harus mampu meyakinkan investor, membangun komunikasi dengan pemerintah pusat, BUMN, dan pelaku industri, serta memastikan peluang besar seperti Blok Andaman benar-benar bermuara pada investasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Dari perspektif kebutuhan strategis perusahaan, Dr. Said Mulyadi merupakan salah satu figur yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk memainkan peran tersebut,” tutup Fauzan.
Sebagai informasi, MFF Syndicate merupakan kelompok kajian independen yang bergerak di bidang politik, hukum, ekonomi, dan kebijakan publik. Lembaga ini secara konsisten memberikan analisis strategis terhadap isu pembangunan, tata kelola pemerintahan, investasi, serta transformasi ekonomi di Aceh dan tingkat nasional.[]






