Mediasatunews.com | Banda Aceh – Satuan Tugas Percepatan Pemulihan Pascabencana (Satgas PRR) mengantisipasi kenaikan harga semen di pasaran agar tidak menghambat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana di Aceh.
Kenaikan harga material tersebut menjadi perhatian pemerintah karena sejumlah proyek pemulihan mulai memasuki tahap konstruksi. Pada saat yang sama, kebutuhan semen di Aceh meningkat seiring dengan pelaksanaan berbagai pekerjaan rehab-rekon.
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal Z.A., mengatakan peningkatan kebutuhan semen juga terjadi bersamaan dengan pelaksanaan sejumlah program nasional, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, serta proyek pembangunan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
“Kebutuhan material semen saat ini meningkat karena bersamaan dengan pelaksanaan rehab-rekon, program nasional lainnya, serta proyek pembangunan pemerintah daerah,” kata Safrizal, Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA), perusahaan tersebut saat ini telah berproduksi pada kapasitas maksimal sehingga belum dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan semen di Aceh.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan, pemerintah berkoordinasi dengan PT Semen Indonesia selaku perusahaan induk PT SBA agar pasokan semen dapat didatangkan dari luar Aceh, baik dari Pulau Jawa maupun Sumatera Barat.
Persoalan tersebut juga akan dilaporkan kepada Satgas PRR untuk dibahas bersama kementerian terkait. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan distribusi semen dari luar daerah dapat berjalan lancar dan memenuhi kebutuhan proyek pemulihan.
Safrizal menegaskan, berdasarkan hasil pengecekan, kenaikan harga semen di pasaran bukan disebabkan oleh produsen. Menurutnya, harga di tingkat pabrik masih normal sehingga pemerintah akan menelusuri penyebab kenaikan harga yang terjadi di lapangan.
“Kami sudah cek, pabrik semen tidak menaikkan harga. Kalau kemudian terjadi kenaikan di lapangan, akan kami telusuri apakah dipengaruhi biaya distribusi atau faktor lainnya,” ujarnya.
Untuk mencegah praktik penimbunan dan permainan harga, Satgas PRR juga telah berkoordinasi dengan Polda Aceh serta aparat intelijen untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi semen di Aceh.
Menurut Safrizal, kenaikan harga semen yang terlalu tinggi berpotensi memengaruhi pelaksanaan rehab-rekon. Pasalnya, perencanaan proyek telah disusun berdasarkan estimasi harga material yang berlaku sebelumnya.
“Kalau kenaikannya sampai 100 persen tentu akan menghambat karena rehabilitasi dan rekonstruksi sudah membuat perencanaan dan estimasi harga material sejak awal,” ujar Safrizal.[]






