Mediasatunews.com | Banda Aceh – Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan bersama Kasdam Iskandar Muda Brigjen TNI Dwi Sasongko memimpin apel gelar pasukan dalam rangka pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengamanan peringatan Hari Damai Aceh (HDA) ke-21 di Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (14/8/2026).
Apel tersebut melibatkan personel TNI, Polri, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), pemadam kebakaran, pemerintah daerah, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Keterlibatan lintas instansi tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam mengantisipasi ancaman karhutla sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban menjelang peringatan HDA ke-21.
Dalam amanatnya, Kapolda Aceh mengatakan apel gelar pasukan memiliki makna strategis sebagai bentuk kesiapan dan komitmen bersama dalam menghadapi potensi karhutla serta memastikan seluruh rangkaian peringatan HDA berlangsung aman, tertib, khidmat, dan lancar.
Ia menyebutkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Aceh memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga September 2026 dengan potensi fenomena El Nino dalam kategori lemah.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama di wilayah yang memiliki lahan kering, gambut, perkebunan, hutan, dan semak belukar.
Menurut Ruddi, data periode Januari hingga Juli 2026 menunjukkan luas hutan dan lahan yang terbakar di Aceh mencapai lebih dari 291,1 hektare. Titik kebakaran terbanyak berada di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Tengah, Aceh Barat, dan Aceh Utara.
“Jangan sampai kita baru bertindak setelah api membesar. Pencegahan harus dimulai sebelum api muncul, deteksi harus dilakukan sebelum kebakaran meluas, dan penanganan harus dilaksanakan secepat mungkin ketika terjadi kebakaran,” ujar Ruddi.
Ia menegaskan, karhutla merupakan ancaman bersama yang membutuhkan keseriusan, kecepatan, ketegasan, dan kolaborasi seluruh elemen.
“Karhutla ini ancaman bersama. Penanganannya memerlukan keseriusan, kecepatan, ketegasan, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa,” katanya.
Pengamanan Hari Damai Aceh
Selain penanganan karhutla, Ruddi mengingatkan bahwa Sabtu (15/8/2026) menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Aceh karena menandai 21 tahun perjalanan perdamaian Aceh sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Peringatan HDA tahun 2026 mengusung tema “Pelaksanaan Penyelesaian Konflik secara Damai, Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Bermartabat dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Menurut Ruddi, tema tersebut memiliki makna penting dalam menjaga keharmonisan, memperkuat persatuan, menghormati perbedaan, serta memastikan masyarakat dapat hidup aman dan damai.
“Bagi Polri, tugas kita menjaga agar rangkaian peringatan HDA berjalan aman dan tertib, sekaligus menjaga roh perdamaian itu sendiri. Jangan sampai ada tindakan, ucapan, atau sikap kita yang justru mencederai nilai-nilai perdamaian yang selama ini telah kita jaga,” katanya.
Terkait pencegahan karhutla, Ruddi meminta seluruh personel dan instansi terkait mengutamakan langkah preventif melalui sosialisasi dan edukasi secara masif, khususnya di wilayah rawan.
Ia juga meminta keterlibatan seluruh elemen masyarakat serta penguatan peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak pencegahan karhutla di tingkat desa.
“Perkuat sinergitas dan soliditas antarinstansi dalam satu gerakan dan satu tujuan, serta tegakkan hukum secara tegas, profesional, dan berkeadilan terhadap setiap pelaku pembakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Sementara untuk pengamanan HDA, Ruddi meminta seluruh personel mengedepankan profesionalisme dan humanisme. Deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta isu-isu provokatif juga perlu dioptimalkan.
“Pastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan khidmat serta berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Di akhir amanatnya, perwira tinggi Polri yang merupakan Abituren Akabri 1996 itu mengatakan pencegahan karhutla dan pengamanan HDA memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga keselamatan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat Aceh.
“Saya percaya, dengan kesungguhan, kedisiplinan, sinergitas, dan kerja keras kita semua, kita mampu mewujudkan Aceh bebas asap, zero karhutla, serta menjadikan HDA tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan dan memperkokoh persatuan dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.
Kasdam IM Tekankan Pentingnya Kerja Sama
Sementara itu, Pangdam Iskandar Muda yang diwakili Kasdam IM Brigjen TNI Dwi Sasongko mengatakan kesiapan seluruh instansi merupakan bukti kuatnya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi berbagai tantangan di Aceh.
Menurutnya, setiap persoalan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama dan kekompakan seluruh unsur.
“Tidak ada tugas dan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh superman, tetapi oleh super team karena kita saling bekerja sama,” ujarnya.
Dwi mengapresiasi seluruh peserta apel atas kesiapan mereka dalam mendukung penanganan karhutla, mulai dari pencegahan melalui edukasi, pengawasan melalui patroli, hingga penindakan melalui kerja sama lintas instansi.
Menurutnya, upaya tersebut hanya dapat berjalan optimal apabila koordinasi dan kerja sama antarlembaga terus diperkuat.
Hal yang sama berlaku dalam pengamanan peringatan HDA. Dwi menilai kondisi Aceh yang aman, damai, dan kondusif merupakan modal penting dalam mendukung keberlanjutan pembangunan, termasuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Untuk itu, yang pertama, jaga kesehatan dan jaga kekompakan. Yakinlah, apa yang kita lakukan sangat bermanfaat bagi masyarakat Aceh dan tetap tegak dalam bingkai NKRI. Salam hormat kepada para peserta apel. Selamat bertugas,” pungkasnya.[]






