Mediasatunews.com | Medan – Pemerintah Kota Banda Aceh meraih penghargaan 1st IMT-GT Green City Award kategori Solid Waste Management – Silver Award dalam rangkaian Gala Dinner 32nd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meetings di Ballroom JW Marriott Hotel Medan, Rabu (9/9/2026) malam.
Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah bin Mohd. Nasir kepada Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal.
Pada kategori Solid Waste Management, tiga daerah menerima penghargaan, yakni Manjung Municipality, Malaysia, sebagai Gold Award; Banda Aceh City, Indonesia, sebagai Silver Award; dan Pekanbaru City, Indonesia, sebagai Bronze Award.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya Kota Banda Aceh dalam pengelolaan persampahan dan pembangunan kota yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Penganugerahan itu merupakan bagian dari 1st IMT-GT Green City Award Ceremony yang digelar bersamaan dengan jamuan makan malam Pertemuan Menteri IMT-GT ke-32.
Sejumlah pejabat dari tiga negara turut menghadiri agenda tersebut, antara lain Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian, Gubernur Sumatera Utara M. Bobby Afif Nasution, Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah bin Mohd. Nasir, serta Wakil Menteri pada Kantor Perdana Menteri Kerajaan Thailand Thanadit Raktabut.
Turut hadir sejumlah pejabat dan delegasi, di antaranya Direktur Jenderal Departemen Asia Tenggara Asian Development Bank Nianshan Zhang, Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN Nararya S. Soeprapto, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi, Kepala Menteri Perlis sekaligus Kepala CMGF Malaysia Abu Bakar bin Hamzah, Gubernur Provinsi Trang sekaligus Kepala CMGF Thailand Songklod Sawanwong, serta sejumlah gubernur dan wakil gubernur dari berbagai provinsi di Thailand.
Kehadiran para pejabat dan delegasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).
Dalam sambutannya, Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebagai tuan rumah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan rangkaian kegiatan IMT-GT.
Tito mengatakan IMT-GT yang dibentuk pada 20 Juli 1993 di Langkawi, Malaysia, merupakan bentuk kerja sama ekonomi subregional yang mendorong pertumbuhan ekonomi, konektivitas, perdagangan, investasi, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat.
Namun, menurut Tito, kerja sama tersebut perlu menghasilkan manfaat yang lebih konkret bagi masyarakat.
“IMT-GT tidak boleh hanya menjadi forum untuk berdialog dan berdiskusi, tetapi harus menjadi sebuah platform yang menghasilkan program dan proyek yang konkret, terukur, serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Tito juga menekankan pentingnya menerjemahkan berbagai kesepakatan menjadi tindakan nyata.
“Bagaimana kita mengubah keputusan menjadi kenyataan? Bagaimana kita membuat berbagai kesepakatan benar-benar diwujudkan dalam tindakan?” katanya.
Menurut Tito, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki potensi besar untuk memperkuat kerja sama, khususnya melalui pengembangan potensi Pulau Sumatera yang memiliki sumber daya alam, pertanian dan perkebunan, serta sumber daya manusia yang besar.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat kerja sama dengan Malaysia dan Thailand melalui berbagai bentuk kemitraan, termasuk sister city dan sister province.
Illiza: Penghargaan Jadi Motivasi Benahi Pengelolaan Sampah
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diterima Kota Banda Aceh. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan, tetapi juga menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan dan persampahan.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus melakukan pembenahan. Pengelolaan sampah merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Illiza.
Ia menegaskan predikat Silver Award harus menjadi pemacu bagi Pemerintah Kota Banda Aceh untuk meningkatkan kualitas pengelolaan persampahan.
“Kita tidak boleh berhenti pada penghargaan. Justru ini menjadi tantangan bagi kita untuk bekerja lebih baik dan meningkatkan capaian pada masa yang akan datang,” katanya.
Illiza juga menekankan pentingnya semangat Banda Aceh Kolaborasi dalam menangani berbagai persoalan perkotaan, termasuk lingkungan dan persampahan.
“Persoalan kota tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Semangat inilah yang terus kita bangun di Banda Aceh,” ujarnya.
Menurut Illiza, penghargaan tersebut menjadi momentum bagi Banda Aceh untuk memperkuat peran dalam jejaring kota di kawasan IMT-GT sekaligus berbagi praktik baik dalam pembangunan kota yang bersih, hijau, berkelanjutan, dan berdaya saing.[]






