Mediasatunews.com | Banda Aceh – Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Abu H. Muhammad ‘Ali atau Abu Paya Pasi, dijadwalkan menyampaikan tausiah pada Malam Zikir dan Doa Hari Damai Aceh 2026 di Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Jumat malam (14/8/2026) mendatang.
Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Aceh melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA) tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mengenang, mensyukuri, sekaligus merawat perdamaian Aceh.
Malam zikir dan doa juga diharapkan menjadi momentum spiritual bagi masyarakat untuk memperkuat komitmen dalam menjaga perdamaian yang telah terbangun.
Kepala UPTD Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Aprilizar, mengatakan rangkaian kegiatan dijadwalkan dimulai pukul 19.45 WIB setelah pelaksanaan salat Isya berjamaah.
“Kegiatan akan dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan langsung oleh Abu Paya Pasi, kemudian Zikir Hari Damai Aceh 2026 yang dipimpin Tgk. Jamaluddin Radyid bersama tim dari Kabupaten Aceh Utara,” kata Aprilizar.
Ia mengatakan kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum. Ia mengajak masyarakat Aceh untuk hadir dan mengisi momentum Hari Damai Aceh dengan zikir dan doa di Masjid Raya Baiturrahman.
“Insyaallah, Abu Paya Pasi selaku Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh akan menyampaikan tausiah secara langsung. Kegiatan ini terbuka untuk umum sehingga kami mengajak seluruh masyarakat hadir dan mengikuti rangkaian zikir dan doa,” ujarnya.
Ketertiban jamaah juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan yang diperkirakan dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan tersebut.
Kepala Humas Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Dr. H. Said Mulyadi, mengimbau seluruh jamaah mematuhi ketentuan serta menggunakan ruang yang telah disediakan pengelola masjid.
“Mari kita bersama-sama menyemarakkan kegiatan ini dengan tetap menjaga ketertiban. Kami mengimbau masyarakat mengikuti aturan dan menggunakan ruang yang telah disediakan sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung khidmat dan nyaman,” ujarnya.
Malam Zikir dan Doa Hari Damai Aceh 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur atas perdamaian yang telah berlangsung.
Kegiatan tersebut sekaligus diharapkan dapat meneguhkan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menjaga Aceh tetap damai, aman, dan bermartabat.[]






