ACEH BARAT – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat meneken Memorandum Of Understanding (MoU) aksi percepatan penurunan stunting dalam rangka menyukseskan program BKKBN di aula DP3AKB, Selasa, 26 April 2022.
Kesepakatan diteken oleh Plt Kadis DP3AKB Aceh Barat, Mulyani SKM bersama empat unsur terkait, Kemenag Aceh Barat, Dinkes Aceh Barat, TP PKK Aceh Barat dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Aceh Barat dihadapan Bupati Aceh Barat H Ramli MS.
“Stunting merupakan permasalahan serius yang harus ditangani secara tepat dan kolektif agar anak-anak Aceh Barat terjamin kesehatan dan kecerdasannya,” kata Bupati Ramli MS dalam sambutannya di Acara tersebut.
Pemerintah Aceh Barat, sebut Ramli, telah melaksanakan beberapa langkah penanganan stunting. Diantaranya, membentuk kampung muslimin dan kelompok posyandu remaja. Dengan tujuan untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menerapkan pola hidup sehat, pola asuh anak yang tepat, dan sanitasi yang baik.
“Kami juga ada program kebun gizi yang saat ini telah diterapkan di setiap desa di Aceh Barat. Selain untuk memenuhi asupan gizi seimbang, kebun gizi juga bertujuan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
“Bidan kami minta dapat bekerja maksimal dan profesional serta dapat memberikan pengetahuan dan motivasi kepada masyarakat dalam pemenuhan gizi seimbang untuk pencegahan stunting,” tutur Ramli MS.
Plt Kadis DP3AKB Aceh Barat, Mulyani SKM menyebutkan, angka stunting Provinsi Aceh sebesar 33,22 persen. Sementara untuk Aceh Barat berada pada angka 27,4 persen. Pihaknya menargetkan angka stunting di Aceh Barat harus bisa turun hingga ke angka 14 persen.
“Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk diraih tanpa Kerjasama dan sinergitas antara lintas sektor,” tutur Mulyani.
Untuk mencapai target ini, lanjut Mulyani, DP3AKB Aceh Barat sudah merekrut966 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari 322 Gampong dalam 12 Kecamatan, yang terdiri dari unsur kesehatan (bidan), unsur PKK gampong, serta unsur kader KB (PPKBD).
“Mereka mempunyai tugas dan fungsi melakukan pendampingan kepada keluarga yang berisiko stunting, seperti catin, ibu hamil, PUS, bayi dan balita serta Ibu nifas,” tutup Mulyani.
(ptr/abar)






