Mediasatunews.com | Banda Aceh – Ribuan jamaah memadati Masjid Raya Baiturrahman Aceh dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi, Senin (24/8/2026) malam.
Masyarakat dari berbagai kalangan datang untuk mengikuti rangkaian peringatan kelahiran Rasulullah SAW sekaligus mendengarkan tausiah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Wakil Imam Besar III Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Dr Tgk H A Mufakhir Muhammad MA, mengaku bersyukur melihat tingginya antusiasme masyarakat. Menurutnya, semangat jamaah pada peringatan Maulid tahun ini terlihat lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Malam ini saya melihat lebih bersemangat daripada tahun-tahun sebelumnya untuk kita memperingati Maulid Nabi,” ujar Tgk Mufakhir.
Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang memiliki kedudukan istimewa. Kenabian Rasulullah, katanya, tidak hanya diyakini oleh umat Islam, tetapi juga mendapat pengakuan dari sejumlah tokoh di luar Islam.
Karena itu, ia mengajak umat Islam agar peringatan Maulid tidak berhenti pada kegiatan tahunan semata. Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi sarana untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah dengan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu ajaran yang secara khusus ditekankan Tgk Mufakhir adalah menjaga pelaksanaan salat berjamaah bagi umat Islam yang dalam kondisi sehat.
“Suruhan Nabi yang paling pokok yaitu salat secara berjamaah, kecuali bagi orang sakit. Bagi orang sehat, upayakan untuk salat secara berjamaah. Itu namanya mengikuti jejak Rasulullah,” katanya.
Ia juga menaruh perhatian terhadap peran media dalam menyampaikan informasi mengenai kegiatan dan momentum keislaman. Tgk Mufakhir berharap insan pers dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi pemberitaan tentang Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, dan kegiatan keagamaan lainnya.
“Saya mengimbau kepada wartawan untuk menyiarkan berita tentang Maulid, tentang satu Muharram. Hal-hal lain yang tidak penting jangan menjadi berita utama,” ujarnya.
Tgk Mufakhir menegaskan, pernyataannya tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan atau mengkritik kalangan wartawan. Ia hanya mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga semangat dalam memuliakan Rasulullah SAW.
“Ini mohon maaf, bukan kritikan. Tapi muliakan Rasulullah tiap tahun, jangan kita tinggalkan,” katanya.
Tingginya jumlah jamaah yang bertahan mengikuti acara juga mendapat apresiasi dari Wakil Imam Besar III Masjid Raya Baiturrahman itu. Ia pun mengenang suasana peringatan Maulid pada tahun-tahun sebelumnya yang, menurutnya, lebih banyak dihadiri para santri.
Dengan nada bercanda, Tgk Mufakhir menyebut sebagian jamaah pada masa lalu justru mulai meninggalkan kegiatan ketika sesi ceramah berlangsung.
“Dulu hanya dipenuhi oleh anak-anak pesantren. Kemudian saat penceramah sedang ceramah, satu-satu meninggalkan kita, artinya tertidur,” ujarnya yang disambut tawa jamaah.
Ia berharap masyarakat yang hadir pada peringatan Maulid kali ini dapat mengikuti tausiah hingga selesai serta mengambil hikmah dari pesan-pesan yang disampaikan.
Adapun tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raya Baiturrahman tersebut disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr Tgk H Misran Fuadi SAg MAP.
Sebelum tausiah dimulai, Tgk Mufakhir memperkenalkan Tgk Misran Fuadi sebagai penceramah yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang dakwah dan retorika dakwah. Menurutnya, Kepala DSI Aceh tersebut pernah menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry hingga menyelesaikan pendidikan doktoral.
Selain mendalami ilmu dakwah, Tgk Mufakhir menyebut Tgk Misran juga memiliki perhatian terhadap kajian Al-Qur’an dan tafsir.
“Ilmunya tidak dikhawatirkan lagi. Sekarang bukan hanya menguasai ilmu dakwah dan retorika dakwah, tapi saya dengar di Lhokseumawe mengajar ilmu tafsir dan tafsir,” katanya.
Dalam pengantarnya, Tgk Mufakhir turut mengutip pandangan ulama besar Islam Fakhruddin Ar-Razi mengenai pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber ilmu serta pedoman dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, mendalami kedua sumber utama ajaran Islam tersebut bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan ketenangan dan kepuasan batin bagi manusia. (Akhyar)






