Mediasatunews.com | Banda Aceh – Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Laundry Indonesia (DPD ASLI) Aceh menggelar Training Pembuatan Deterjen dan Teknisi Mesin Laundry di Aula Kampus International Tourism College (ITC), Jambo Tape, Banda Aceh, Sabtu–Minggu (25–26/7/2026).
Kegiatan ini diikuti pelaku usaha laundry dari berbagai daerah di Aceh sebagai upaya meningkatkan kompetensi, efisiensi usaha, dan daya saing industri laundry.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber nasional, yakni Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) Periode 2023–2027, Maria Eva Sriulina,; CEO sekaligus Rektor Laundryversity (Sekolah Laundry Indonesia), Akbar Saputra; serta Jayadi, trainer nasional dan praktisi Premium 5àsec International yang juga tergabung dalam Tim Teknis Jordan Laundry.
Ketua DPD ASLI Aceh, Muhammad Nasir, menyampaikan apresiasi kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASLI yang telah hadir di Aceh untuk bersilaturahmi sekaligus berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan usaha laundry.
Menurut Nasir, dukungan DPP ASLI memungkinkan pelatihan yang biasanya hanya diselenggarakan di Jakarta dengan biaya sekitar Rp4,5 juta dapat dilaksanakan di Aceh dengan biaya sekitar seperempat dari nilai tersebut.
“Program ini kami hadirkan untuk membantu pelaku usaha laundry di Aceh agar memiliki kemampuan melakukan perawatan mesin secara mandiri sekaligus memproduksi deterjen sendiri dengan kualitas yang baik. Dengan demikian, biaya operasional dapat ditekan dan keuntungan usaha meningkat,” ujarnya.
Ia menilai penguasaan aspek teknis menjadi kebutuhan penting di tengah semakin ketatnya persaingan usaha laundry. Kemampuan memperbaiki mesin dan memproduksi bahan pendukung secara mandiri akan membuat usaha lebih efisien, berkelanjutan, dan tidak terlalu bergantung pada pihak lain.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat ASLI, Maria Eva Sriulina, mengapresiasi pengurus DPD ASLI Aceh yang kembali aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan setelah sempat vakum dalam beberapa waktu terakhir.
Ia berharap DPD ASLI Aceh terus menjadi wadah pembinaan dan pengembangan kapasitas bagi para pelaku usaha laundry sehingga mampu melahirkan pengusaha laundry yang profesional dan berdaya saing.
Dalam kesempatan tersebut, Maria Eva juga menyampaikan bahwa usaha laundry kini memiliki landasan hukum yang lebih kuat setelah diterbitkannya Peraturan Menteri UMKM Nomor 2 Tahun 2026 yang mengakui usaha laundry sebagai bagian dari kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Ini merupakan langkah maju yang sangat penting karena usaha laundry kini memiliki pengakuan resmi dalam ekosistem UMKM nasional,” katanya.
Maria Eva, yang telah berkecimpung di industri laundry selama lebih dari 11 tahun, juga mengungkapkan bahwa Indonesia memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan industri laundry dunia. Salah satu inovasi yang lahir dari Indonesia adalah konsep laundry kiloan, yang kini semakin dikenal di berbagai negara, sementara sebelumnya layanan laundry umumnya berbasis satuan.
Ia turut mengajak pelaku usaha laundry di Aceh untuk mengikuti Indonesia Best Practice Laundry Awards yang diselenggarakan DPP ASLI. Selain hadiah uang tunai, para pemenang juga akan memperoleh tiket perjalanan pulang-pergi beserta akomodasi ke salah satu negara di Eropa. Tahun ini, pemenang akan diberangkatkan ke Milan, Italia.
“Saya berharap tahun depan ada pelaku usaha laundry dari Aceh yang berhasil menjadi pemenang dan membawa nama daerah di tingkat nasional,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai strategi pengembangan bisnis laundry, pengelolaan sumber daya manusia, peningkatan kualitas layanan, serta solusi atas berbagai persoalan yang kerap dihadapi pelaku usaha, seperti usaha yang sulit berkembang, tingginya biaya operasional, hingga manajemen tenaga kerja.
Sementara itu, pada hari kedua peserta mengikuti pelatihan praktik mengenai teknik perawatan dan perbaikan mesin laundry, penanganan berbagai kerusakan peralatan operasional, serta pembuatan deterjen berkualitas yang dapat diproduksi secara mandiri untuk kebutuhan usaha.
Salah seorang peserta, Ismet, mengaku antusias mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, kesempatan belajar langsung dari para praktisi nasional menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk mengembangkan usahanya.
“Selama ini saya juga banyak belajar dari Pak Muhammad Nasir mengenai tata kelola usaha laundry. Alhamdulillah, melalui pelatihan ini saya memperoleh ilmu baru langsung dari para ahli. Insyaallah, seluruh materi yang saya peroleh akan saya terapkan untuk meningkatkan kualitas usaha laundry yang saya kelola,” katanya.
Melalui kegiatan ini, DPD ASLI Aceh berharap semakin banyak pelaku usaha laundry yang memiliki kompetensi teknis, kemampuan manajerial, serta inovasi dalam mengembangkan usaha sehingga industri laundry di Aceh dapat tumbuh lebih profesional, efisien, dan berdaya saing di tingkat nasional.[]






