USK dan GEN-A Edukasi Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi melalui Program TaKasi-SeRa

USK dan GEN-A Edukasi Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi melalui Program TaKasi-SeRa

Mediasatunews.com | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) membekali remaja putri dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi melalui program Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa).

Kegiatan yang berlangsung di SMAIT Nurul Ishlah Banda Aceh, Kamis (29/10/2026), tersebut membahas tiga materi utama, yakni nyeri haid, keputihan, dan anemia.

Program ini dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pengembangan Berkelanjutan (PKMBPB) USK dengan mengusung tema “Pengembangan Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) sebagai Model Integrasi Layanan Kesehatan Reproduksi Siswa Berbasis Sekolah”.

Ketua tim pengabdian, Ns. Putri Mayasari, MNS, mengatakan edukasi kesehatan reproduksi penting diberikan sejak dini agar remaja mampu mengenali perubahan tubuh, memahami keluhan yang dialami, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.

“Remaja putri perlu dibekali pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi agar mampu mengenali keluhan yang dialami, melakukan perawatan diri dengan tepat, dan tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan ketika diperlukan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai nyeri haid atau dismenore yang disampaikan Syarifah Bainatun Nadia. Materi mencakup pengenalan keluhan selama menstruasi, cara sederhana meredakan nyeri, serta tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Siswi juga diperkenalkan pada sejumlah upaya untuk membantu mengurangi nyeri haid, seperti menggunakan kompres hangat, melakukan aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan, dan mencukupi waktu istirahat.

“Nyeri haid memang sering dialami remaja putri, tetapi penting untuk mengenali kapan nyeri masih dapat ditangani dengan cara sederhana dan kapan keluhan tersebut perlu diperiksakan, terutama jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujar Syarifah.

Materi berikutnya membahas keputihan normal dan tidak normal yang disampaikan Ns. Rifa’ Nadhifatusysyarfi, S.Kep. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa keputihan dapat menjadi bagian normal dari perubahan tubuh selama masa pubertas.

Namun, perubahan warna, bau, jumlah, atau tekstur keputihan, terutama jika disertai rasa gatal, terbakar, atau nyeri, perlu mendapat perhatian dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai cara menjaga kebersihan organ reproduksi, termasuk membersihkan area kewanitaan dengan air bersih, menjaga area tetap kering, mengganti pakaian dalam yang lembap, serta menghindari produk pembersih atau pewangi yang berpotensi menyebabkan iritasi. Materi turut membahas tata cara bersuci bagi muslimah.

“Keputihan tidak selalu berarti ada penyakit. Yang penting, remaja memahami kondisi yang normal, mengenali perubahan yang perlu diwaspadai, dan mencari informasi dari sumber yang tepat,” kata Rifa’.

Sementara itu, materi mengenai anemia disampaikan Haliana Rahmat Dewi, S.Kep. Peserta diajak mengenali sejumlah gejala yang dapat menyertai anemia, seperti lemah, letih, lesu, mudah lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi.

Dalam sesi tersebut, Haliana juga menjelaskan pentingnya pencegahan anemia melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama makanan yang mengandung zat besi, serta mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran bagi remaja putri.

Peserta turut mendapatkan informasi mengenai pentingnya vitamin C dalam membantu penyerapan zat besi serta anjuran menghindari konsumsi teh berdekatan dengan waktu makan atau konsumsi TTD.

“Anemia tidak selalu disadari karena keluhannya bisa dianggap sebagai kelelahan biasa. Karena itu, remaja putri perlu mengenali gejala yang perlu diperhatikan, menjaga asupan gizi, dan mengikuti anjuran konsumsi Tablet Tambah Darah,” ujar Haliana.

Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi, tanya jawab, kuis, serta evaluasi melalui tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test).

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 14 peserta, rata-rata nilai tes awal tercatat 70, sedangkan rata-rata nilai tes akhir mencapai 91. Dengan demikian, terdapat peningkatan rata-rata nilai sebesar 21 poin atau sekitar 30 persen dibandingkan nilai awal.

Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta berdasarkan skor evaluasi setelah mengikuti kegiatan edukasi. Namun, hasil ini belum menggambarkan dampak jangka panjang terhadap perubahan perilaku kesehatan peserta.

Salah seorang peserta mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan mengenali kondisi tubuh.

“Melalui kegiatan ini, saya jadi lebih memahami pentingnya mengenali kondisi tubuh dan mengetahui kapan harus mencari informasi atau bantuan yang tepat,” ungkapnya.

Melalui program TaKasi-SeRa, tim PKMBPB USK bersama GEN-A berharap para siswi dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, lebih terbuka dalam mencari bantuan tenaga kesehatan ketika mengalami keluhan, serta membagikan informasi yang benar kepada teman sebaya.

Program ini diharapkan menjadi upaya berkelanjutan dalam memperkuat edukasi kesehatan reproduksi berbasis sekolah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan remaja.[]