Mediasatunews.com | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Juni 2026 mengalami surplus sebesar US$59,27 juta. Surplus tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang jauh lebih tinggi dibandingkan impor.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan nilai ekspor Aceh pada Juni 2026 mencapai US$85,31 juta, sedangkan nilai impor tercatat sebesar US$26,04 juta.
“Nilai ekspor Aceh pada Juni 2026 meningkat sebesar 61,31 persen dibandingkan Mei 2026,” ujar Agus dalam Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8/2026).
Komoditas ekspor terbesar masih didominasi batu bara dengan nilai US$52,10 juta atau berkontribusi 61,08 persen terhadap total ekspor Aceh.
“Berdasarkan negara tujuan, India menjadi mitra dagang utama Aceh dengan nilai ekspor mencapai US$47,83 juta atau sekitar 56,07 persen dari total ekspor. Komoditas yang diekspor ke negara tersebut meliputi batu bara, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), serta berbagai produk kimia,” jelasnya.
Posisi berikutnya ditempati Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar US$14,29 juta, yang didominasi batu bara, kopi, rempah-rempah, dan produk kimia. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$12,33 juta, terutama berupa kopi dan rempah-rempah.
Dari sisi pelabuhan ekspor, BPS mencatat komoditas asal Aceh yang dikirim melalui pelabuhan di wilayah Aceh mencapai US$64,31 juta atau 75,39 persen dari total ekspor. Sisanya diekspor melalui pelabuhan di provinsi lain, dengan nilai terbesar melalui Provinsi Sumatera Utara sebesar US$20,87 juta.
“Sementara impor Aceh pada Juni 2026 didominasi gas propana dan butana dengan nilai US$21,63 juta. Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai tersebut, seluruhnya berupa gas propana dan butana,” tambah Agus.
Selain Amerika Serikat, Jepang menjadi pemasok terbesar berikutnya dengan nilai impor US$4,02 juta, yang didominasi bahan kimia anorganik. Adapun impor dari India tercatat sebesar US$0,39 juta, terutama berupa garam, belerang, dan kapur.
BPS menilai surplus neraca perdagangan pada Juni 2026 mencerminkan kinerja ekspor Aceh yang masih lebih kuat dibandingkan impor, terutama didukung oleh tingginya ekspor batu bara, CPO, kopi, dan rempah-rempah.[]






