Sembilan Alumni Dayah Darul Ihsan Lanjutkan Studi ke Mesir, Harumkan Nama Aceh

Sembilan Alumni Dayah Darul Ihsan Lanjutkan Studi ke Mesir, Harumkan Nama Aceh

Mediasatunews.com | Jantho – Sebanyak sembilan alumni Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Aceh Besar, mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke Mesir. Mereka akan memperdalam ilmu keislaman pada bidang Syariah Islamiyah dan Ushuluddin melalui Markaz Tathwir dan Markaz Syekh Zaid di bawah Kementerian Agama Mesir.

Kesempatan tersebut menjadi capaian membanggakan bagi keluarga besar Dayah Darul Ihsan sekaligus membuka peluang bagi para alumni untuk memperluas wawasan dan memperdalam keilmuan Islam di salah satu negara yang memiliki tradisi panjang dalam pengembangan pendidikan Islam.

Kesembilan alumni tersebut berasal dari sejumlah daerah di Aceh, yakni Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan. Mereka juga berasal dari tahun kelulusan yang berbeda, terdiri atas enam lulusan 2026, satu lulusan 2025, dan dua lulusan 2024.

Adapun sembilan alumni yang melanjutkan studi ke Mesir tersebut adalah Muhammad Alvaro Adhyaksa asal Banda Aceh, yang mengambil bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dengan jadwal keberangkatan 3 November 2026.

Selanjutnya, Safrul Akbar asal Aceh Barat juga memilih bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dan dijadwalkan berangkat pada 3 November 2026. Sementara itu, Azkal Azkiya asal Banda Aceh mengambil bidang Ushuluddin melalui jalur yang sama dengan jadwal keberangkatan 19 Oktober 2026.

Berikutnya, Cut Cahaya Arsy asal Aceh Besar memilih bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dan dijadwalkan berangkat pada 19 Oktober 2026. Hal serupa ditempuh Potong Rizkina Potallahbi, juga asal Aceh Besar, yang mengambil bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dengan jadwal keberangkatan 3 November 2026.

Raisna Sulma asal Aceh Besar melanjutkan pendidikan pada bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Syekh Zaid di bawah Kementerian Agama. Namun, jadwal keberangkatannya belum dikonfirmasi.

Sementara itu, Muhammad Rizki asal Nagan Raya mengambil bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dan dijadwalkan berangkat pada 30 Oktober 2026. Rahmat Shiddieq asal Aceh Barat memilih bidang Ushuluddin melalui jalur yang sama dengan jadwal keberangkatan 3 November 2026.

Adapun Muhammad Hawari asal Aceh Selatan mengambil bidang Syariah Islamiyah melalui Markaz Tathwir dan dijadwalkan berangkat pada 19 Oktober 2026.

Pimpinan Dayah dan Yayasan Berikan Apresiasi

Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Tgk. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas capaian sembilan alumninya tersebut. Menurutnya, kesempatan melanjutkan pendidikan ke Mesir merupakan kebanggaan bagi keluarga besar dayah sekaligus menjadi motivasi bagi para santri yang masih menempuh pendidikan.

Ia berharap para alumni dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, meningkatkan kemampuan akademik, serta memperdalam ilmu agama di lingkungan pendidikan internasional.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Yayasan Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Tgk. H. Musannif Sanusi, S.E., S.H., M.H. Ia berharap para alumni tidak hanya menjadikan keberangkatan ke Mesir sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai amanah untuk menjaga nama baik keluarga, almamater, dan Aceh.

Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri diharapkan mampu memperluas wawasan, memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, serta menjadi bekal bagi para alumni untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.

Dalam proses koordinasi dan penyampaian informasi terkait keberangkatan para alumni tersebut, Ustazah Zakiah Zainun, Lc., M.Ag., turut berperan sebagai mediator.

Keberangkatan sembilan alumni tersebut menjadi salah satu capaian dalam perjalanan pendidikan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee. Berasal dari daerah dan angkatan kelulusan yang berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni melanjutkan pendidikan dan memperdalam ilmu pengetahuan di luar negeri.

Bagi para alumni, kesempatan tersebut merupakan babak baru dalam perjalanan menuntut ilmu. Sementara bagi lembaga pendidikan, capaian ini menjadi dorongan untuk terus mengembangkan tradisi keilmuan serta mempersiapkan santri agar mampu bersaing di lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Diharapkan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Mesir kelak dapat dibawa kembali ke Aceh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, perjalanan pendidikan para alumni tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga bagian dari upaya melahirkan generasi berilmu yang mampu berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di Aceh. (Mustafa Husen)