LKC Dompet Dhuafa Aceh Salurkan 20 Alat Antropometri untuk Pemantauan Gizi Anak di Bireuen

LKC Dompet Dhuafa Aceh Salurkan 20 Alat Antropometri untuk Pemantauan Gizi Anak di Bireuen

Mediasatunews.com | Bireuen – Layanan kesehatan di Kabupaten Bireuen masih menghadapi tantangan dalam proses pemulihan pascabencana. Dari 20 puskesmas yang tersebar di 17 kecamatan, lima puskesmas mengalami kerusakan berat dan 19 puskesmas pembantu (pustu) terdampak.

Sebagian fasilitas kesehatan telah kembali beroperasi, sementara sejumlah fasilitas lainnya masih dalam proses pemulihan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang LKC Dompet Dhuafa Aceh menggelar kegiatan Launching dan Penguatan Revitalisasi Posyandu dalam Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabencana di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, Rabu (23/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, LKC Dompet Dhuafa Aceh menyerahkan 20 set alat antropometri untuk mendukung pemantauan pertumbuhan dan status gizi anak di Posyandu.

Kegiatan dihadiri Wakil Bupati Bireuen Razuardi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen Irwan A. Gani, serta kepala puskesmas dari lima wilayah pelayanan, yakni Pante Lhong, Kutablang, Peusangan Siblah Krueng, Peusangan Juli 1, dan Jangka.

Hadir pula bidan desa penerima alat antropometri dan kader Posyandu, termasuk dari Gampong Pante Lhong yang menjadi desa binaan LKC Dompet Dhuafa Aceh tahun ini.

Dalam sambutannya, Razuardi menekankan pentingnya kolaborasi dalam pemulihan layanan kesehatan masyarakat. Menurutnya, dukungan terhadap Posyandu diperlukan karena layanan tersebut menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, Irwan A. Gani, mengapresiasi dukungan LKC Dompet Dhuafa Aceh dalam proses pemulihan layanan kesehatan pascabencana.

“Terima kasih setinggi-tingginya kami sampaikan kepada LKC Dompet Dhuafa Aceh atas dukungannya dalam pemulihan layanan kesehatan di Bireuen. Pascabencana, dampak di sektor kesehatan cukup besar. Bireuen memiliki 17 kecamatan dan 20 puskesmas, dengan lima puskesmas rusak berat serta 19 pustu terdampak. Sebagian sudah kembali beroperasi, sementara lainnya masih dalam proses pemulihan,” ujar Irwan.

Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus mendukung proses pemulihan layanan kesehatan di Bireuen.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut hingga 2028 untuk mempercepat pemulihan dan memastikan pelayanan kesehatan masyarakat kembali berjalan secara optimal,” katanya.

Selain penyerahan alat antropometri, kegiatan diisi dengan Seminar Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal serta lokakarya pengukuran, interpretasi, dan pelaporan status gizi anak yang menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen.

Seminar membahas pemenuhan kebutuhan gizi anak berdasarkan usia, pemanfaatan pangan lokal, pengolahan makanan, serta edukasi kepada orang tua sesuai dengan status gizi anak.

Sementara itu, lokakarya bertujuan memperkuat keterampilan peserta dalam melakukan pengukuran, memahami hasil pengukuran, mencatat, dan melaporkan status gizi anak menggunakan alat antropometri.

Fasilitator LKC Dompet Dhuafa Aceh, Intan Mandira, mengatakan pendampingan diperlukan agar dukungan alat tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pelayanan Posyandu.

“Kami tidak ingin dukungan ini berhenti pada penyerahan alat. Bidan dan kader perlu didampingi agar mampu memanfaatkannya dalam pelayanan sehari-hari, sehingga hasil pengukuran dapat dicatat, dipahami, dan menjadi dasar untuk edukasi maupun tindak lanjut kepada masyarakat,” ujar Intan.

Kepala Wilayah LKC Dompet Dhuafa Aceh, Arfan Ramadhan, mengatakan revitalisasi Posyandu merupakan bagian dari penguatan sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat pascabencana.

“Pemulihan tidak hanya tentang mengembalikan fasilitas yang terdampak bencana, tetapi juga memastikan orang-orang yang menjalankan pelayanan memiliki kapasitas yang kuat. Karena itu, penguatan kader dan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali layanan kesehatan yang dapat berjalan bersama masyarakat,” ujar Arfan.

Melalui dukungan sarana, peningkatan kapasitas, edukasi gizi, dan pendampingan, program tersebut diharapkan dapat memperkuat pemantauan pertumbuhan anak di Posyandu serta mendukung edukasi dan tindak lanjut kesehatan di tingkat masyarakat.[]