Berawal dari Warung Kopi, Tiga Guru MUDI II Gagas Gerakan Membaca Gratis

Berawal dari Warung Kopi, Tiga Guru MUDI II Gagas Gerakan Membaca Gratis

Mediasatunews.com | Samalanga – Tiga dewan guru Dayah MUDI II menggagas gerakan Membaca Gratis (MBG) sebagai upaya menumbuhkan budaya membaca dan memperluas wawasan santri. Program tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Jumat dengan menyediakan buku bacaan yang dapat dipinjam dan dibaca secara gratis.

Gerakan itu digagas Tgk. Sofran, Tgk. Arika Amalia, dan Tgk. Fajri. Gagasan tersebut bermula dari diskusi sederhana di sebuah warung kopi dan kemudian diwujudkan dalam bentuk kegiatan membaca bagi para santri.

Ketiga penggagas turut menyumbangkan buku-buku koleksi pribadi sebagai bahan bacaan. Program tersebut dijalankan secara sukarela sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan membaca di lingkungan dayah.

Dalam pelaksanaannya, santri diberikan kesempatan memilih buku yang tersedia untuk dibaca setiap Jumat. Pada pelaksanaan perdana, antusiasme santri terlihat dari banyaknya buku yang dipinjam dan dibaca.

Tgk. Sofran mengatakan nama Membaca Gratis dipilih karena sederhana dan mudah diingat. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan positif di kalangan santri.

Menurutnya, budaya membaca buku di luar kitab kuning bukan untuk menggantikan tradisi keilmuan Islam yang menjadi ciri khas pendidikan dayah. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pelengkap untuk memperluas wawasan santri mengenai ilmu pengetahuan, sejarah, pemikiran, dan berbagai perkembangan di masyarakat.

“Dengan membaca, santri dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Kami ingin kegiatan sederhana ini menjadi kebiasaan yang terus tumbuh di lingkungan santri,” ujar Tgk. Sofran.

 

Antusiasme santri pada pelaksanaan perdana turut mendorong para penggagas untuk mengembangkan program tersebut. Mereka berharap koleksi buku yang tersedia dapat terus bertambah sehingga semakin banyak santri yang memperoleh manfaat.

Bagi para penggagas, gerakan MBG menunjukkan bahwa upaya membangun budaya literasi dapat dimulai dari langkah sederhana. Buku-buku koleksi pribadi dan kesediaan untuk berbagi menjadi modal awal dalam menghadirkan ruang membaca bagi santri.

Mereka berharap gerakan serupa dapat berkembang di lingkungan pendidikan dayah lainnya sehingga budaya membaca semakin tumbuh dan melengkapi tradisi keilmuan Islam.

Melalui MBG, para penggagas ingin mendorong lahirnya generasi santri yang tidak hanya kuat dalam tradisi keilmuan Islam dan kajian kitab kuning, tetapi juga memiliki wawasan luas serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan zaman.[]