Oleh: Tgk. Arika Amalia, S.Pd., M.Pd.
(Ketua DPW ISAD Aceh Barat)
Mediasatunews.com | Meulaboh – Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, setiap orang memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan pendapat. Media sosial, forum diskusi, dan berbagai platform digital memungkinkan siapa saja berbicara tentang apa pun yang mereka yakini. Namun, di balik kemudahan itu, muncul satu persoalan yang semakin sering kita jumpai, yaitu kebiasaan menghakimi sebelum memahami.
Tidak jarang seseorang dinilai hanya dari potongan perkataan, unggahan singkat, atau kesalahan yang tampak di permukaan. Banyak orang terburu-buru menyimpulkan tanpa berusaha mengetahui latar belakang, maksud, atau keadaan yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi sumber pertentangan, bahkan sampai pada tahap permusuhan berkepanjangan dan saling membenci antarsesama.
Padahal, kehidupan manusia tidak pernah sesederhana apa yang terlihat. Setiap individu memiliki pengalaman, lingkungan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu dipandang sama oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya, apa yang kita anggap keliru belum tentu lahir dari niat yang buruk. Ada banyak faktor yang membentuk cara berpikir dan bertindak seseorang.
Karena itu, memahami seharusnya menjadi langkah awal sebelum memberikan penilaian. Memahami bukan berarti membenarkan semua hal, melainkan berusaha melihat persoalan secara lebih utuh dan proporsional. Dengan memahami, seseorang akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih bijak dalam bersikap, dan lebih adil dalam memberikan penilaian.
Lalu, bagaimana cara membentuk sikap tersebut?
Kita perlu membangun kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan di dunia ini. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, memiliki kelemahan, dan menghadapi permasalahan hidup yang tidak selalu diketahui oleh orang lain. Kesadaran akan keterbatasan diri inilah yang semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan rasa paling benar.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kerendahan hati memiliki peran yang sangat penting. Sikap ini mendorong seseorang untuk lebih banyak mendengar daripada menyalahkan, serta lebih banyak belajar daripada merasa paling mengetahui. Ketika sikap ini tumbuh, ruang-ruang dialog akan menjadi lebih sehat, dan perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kenyataan yang harus disikapi dengan kedewasaan.
Sikap ini tidak hanya perlu dijaga dalam kehidupan nyata, tetapi juga di dunia maya. Media sosial sering menjadi tempat lahirnya berbagai penilaian instan terhadap seseorang hanya berdasarkan potongan informasi, unggahan singkat, atau cuplikan peristiwa yang belum tentu menggambarkan keseluruhan fakta. Akibatnya, fitnah, perundungan digital, dan penghakiman massal menjadi sesuatu yang semakin lazim terjadi.
Karena itu, etika dalam bermedia sosial menjadi semakin penting. Sebelum memberikan penilaian, seseorang perlu memastikan kebenaran informasi yang diterimanya. Sebelum membagikan suatu berita, ia perlu mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya. Sebelum mengomentari kesalahan orang lain, ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah komentar tersebut akan membawa kebaikan atau justru memperkeruh keadaan.
Lebih dari itu, memahami orang lain juga merupakan salah satu bentuk kebaikan sosial. Terkadang, seseorang tidak membutuhkan penilaian yang cepat, melainkan pengertian yang tulus. Ia tidak memerlukan kecaman, tetapi membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan dan memperbaiki diri. Dalam banyak keadaan, sikap memahami dapat menjadi jembatan yang menyatukan, sementara sikap menghakimi sering kali hanya memperlebar jarak antarsesama.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang siapa yang paling cepat menilai, melainkan siapa yang paling mampu bersikap adil. Sebab, tidak semua yang tampak buruk benar-benar buruk, dan tidak semua yang tampak baik sepenuhnya baik. Ada banyak sisi yang tidak terlihat oleh mata dan tidak diketahui oleh pengetahuan kita yang terbatas.
Oleh karena itu, sebelum menghakimi seseorang, belajarlah untuk memahami. Sebelum menyalahkan, berusahalah untuk mendengar. Sebelum memberikan vonis, cobalah melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Sebab, sering kali pemahaman yang lahir dari keluasan hati jauh lebih berharga daripada penilaian yang lahir dari prasangka.
Jika kita belum menemukan arah dalam bersikap, maka lihatlah bagaimana akhlak Baginda Rasulullah saw., hamba Allah yang terbebas dari kesalahan dan senantiasa bersikap bijaksana dalam setiap urusan. Beliau tetap tegar ketika ditindas, sabar menghadapi berbagai ujian, dan tegas dalam menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, wajar apabila Rasulullah saw. menjadi manusia teladan yang relevan sepanjang zaman.[]






