Syech Muharram: Jangan Sampai Anak Aceh Tak Bisa Berbahasa Aceh

Syech Muharram: Jangan Sampai Anak Aceh Tak Bisa Berbahasa Aceh

Mediasatunews.com | Jantho – Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris, atau akrab disapa Syech Muharram mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian bahasa dan budaya Aceh di tengah perkembangan zaman. Ia meminta keluarga, sekolah, dan masyarakat membiasakan generasi muda menggunakan bahasa Aceh agar identitas daerah tetap terjaga.

Pesan tersebut disampaikan Bupati yang akrab disapa Syech Muharram saat membuka Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026 di halaman Kantor Camat Peukan Bada, Senin (12/10/2026).

“Jangan sampai anak Aceh tidak bisa berbicara bahasa Aceh. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar bahasa dan budaya Aceh tetap terjaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Menurut Muharram, pelestarian bahasa dan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ia prihatin karena sebagian generasi muda mulai tidak fasih, bahkan merasa malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan Aceh tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai syariat Islam. Pelestarian budaya, menurutnya, tidak cukup dilakukan melalui kesenian dan festival, tetapi harus mencakup adat istiadat, tata krama, serta penghormatan kepada orang yang lebih tua.

“Budaya kita tidak terlepas dari hukum syariah. Adat dan hukum itu ibarat zat dan sifat, tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Selain bahasa dan adat istiadat, Muharram menyoroti pentingnya melindungi kekayaan budaya daerah, termasuk kuliner tradisional kuah beulangong yang menjadi salah satu identitas masyarakat Aceh Besar.

Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Besar menindaklanjuti upaya perlindungan kekayaan intelektual atas warisan budaya tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Kuah beulangong merupakan budaya khas Aceh Besar. Saya minta Disdikbud dan Bappeda mengurus perlindungan hak kekayaan intelektualnya karena banyak khazanah kita yang dimanfaatkan daerah lain,” kata Muharram.

Ia menambahkan, pelestarian budaya juga mendukung visi Kabupaten Aceh Besar sebagai destinasi wisata religi Islami. Kekayaan tradisi, kesenian, kuliner, dan penerapan nilai-nilai syariat menjadi bagian dari identitas daerah yang perlu terus dijaga.

Di bidang pendidikan, Muharram mendukung program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) untuk mengembangkan kreativitas siswa. Namun, ia menekankan bahwa pendidikan seni dan budaya perlu diimbangi dengan pendidikan agama melalui program Beut Kitab Bak Sikula (BKBS).

“BKBS harus kita jaga. Anak-anak selain belajar tentang budaya juga harus diimbangi dengan belajar agama di sekolah,” ujarnya.

273 Siswa Ikuti Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026

Ketua panitia sekaligus Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, mengatakan Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026 berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 dengan melibatkan 273 siswa dari 15 sekolah.

Festival tahunan yang sebelumnya digelar di Kecamatan Indrapuri dan Blang Bintang itu menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas sekaligus meningkatkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah.

Para peserta mengikuti enam cabang perlombaan, di antaranya pidato bahasa Aceh, hadih maja, lagu jameun, calitra paneuk, dan meucagok. Pemenang setiap cabang akan dipersiapkan untuk mewakili Aceh Besar pada kompetisi tingkat Provinsi Aceh.

Sementara itu, perwakilan Balai Pelestarian Bahasa Wilayah I Kementerian Kebudayaan RI, Cut Zahrina, mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk melestarikan bahasa, mengembangkan kreativitas seniman, dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

Festival Piasan Aceh Rayeuk 2026 diharapkan dapat memperkuat peran generasi muda dalam menjaga bahasa, adat istiadat, dan kesenian Aceh agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.[]