Mediasatunews.com | Banda Aceh – Perkembangan pesat teknologi digital telah mengubah cara masyarakat dalam menyerap informasi. Media sosial tidak lagi sekadar ruang rekreasi virtual, melainkan telah bertransformasi menjadi panggung baru bagi dunia dakwah dan edukasi.
Konten Kreator Aceh, Muhammad Al Munawwir yang lebih akrab dikenal Awien Syu’ib, membagikan pandangannya mengenai dinamika dunia kreatif digital.
Ia menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk naik kelas, dari sekedar konsumen (penonton) yang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar, menjadi produsen konten yang membawa dampak positif.
Memulai perjalanannya di dunia digital sejak tahun 2016, Awien mengakui bahwa media sosial memiliki pengaruh yang sangat masif terhadap linimasa kehidupannya.
Dari fase lajang, menikah, hingga kini memiliki buah hati, industri kreatif digital telah menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya melalui berbagai lini seperti kerja sama promosi, TikTok Affiliate, hingga jasa profesional.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan untuk menjadi terkenal di platform seperti TikTok adalah ujian tersendiri.
“Media sosial itu ibarat pisau bermata dua. Ada sisi positifnya dan ada sisi negatifnya. Jangan sampai kita menjadi budak algoritma dan menghalalkan segala cara, seperti membuat konten sensasional atau clickbait hanya demi angka tayangan,” ujar Awien Syu’ib saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Dakwah Digital Melalui Konten Kreatif bagi Remaja Masjid se-Kota Banda Aceh yang digelar Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh di Hotel Amel Convention Hall, Rabu (15/7/2026).
Bagi Awien, konsistensi menata portofolio digital jauh lebih krusial. Ia mencontohkan bagaimana dirinya mengelola beberapa akun, di mana akun ketiga miliknya secara spesifik difokuskan sebagai ruang pamer keahlian (portofolio) yang terbukti membuka banyak pintu kolaborasi dan peluang kerja.
Mengapa Dakwah Harus Masuk Media Sosial?
Menjawab tantangan zaman, Awien Syu’ib menegaskan bahwa ruang digital harus segera diisi oleh para dai dan kreator konten Islami. Jika tidak, ruang-ruang tersebut akan didominasi oleh konten yang belum tentu membawa kebaikan.
“Berdasarkan realitas hari ini, screen time generasi muda bisa mencapai lebih dari delapan hingga sepuluh jam sehari, dengan media sosial sebagai rujukan utama informasi,” kata Awien.
Menurutnya, keunggulan utama digitalisasi ini adalah jangkauannya yang tanpa batas. Konten yang diproduksi di Banda Aceh kini bisa dinikmati global berkat fitur penerjemah otomatis.
Profesi baru pun bermunculan dan sangat menjanjikan, seperti content editor atau video clipper. Tugas mereka adalah meramu video panjang menjadi cuplikan pendek berdurasi 15 hingga 30 detik yang memikat audiens untuk menonton versi lengkapnya.
Awien membagikan sejumlah strategi taktis bagi para kreator pemula yang ingin terjun di ranah dakwah kreatif.
Pertama, penyampaian materi yang ringkas dan padat. Mengubah materi yang berat dan panjang menjadi video singkat (2-3 menit) yang mudah dicerna tanpa mengurangi esensi ilmu.
Kedua, riset dan modifikasi tren. Menggunakan audio atau lagu yang sedang viral, lalu mengubah liriknya menjadi pesan edukasi. Metode ini sudah marak di Aceh dengan adaptasi bahasa lokal.
Ketiga, berlandaskan kebenaran. Perbedaan pendapat di media sosial adalah hal yang lumrah. Kuncinya adalah menyertakan dasar hukum yang jelas, baik ayat Al-Qur’an maupun hadis yang sahih.
Keempat, visual yang menarik dan kontekstual. Mengemas video dengan visual yang baik dan mengaitkannya dengan isu hangat di masyarakat atau kejadian sehari-hari.
Kelima, perencanaan konten (content planning). Menyiapkan tema jauh-jauh hari (misalnya kalender konten menyambut Ramadhan) agar produksi konten tetap terarah dan konsisten.
Jadikan Digital Ladang Amal Jariyah
Salah satu hal yang disoroti Awien adalah keberhasilan beberapa kreator lokal Aceh yang mampu menembus panggung nasional tanpa kehilangan identitas.
Cara berpakaian yang sopan, penggunaan dialek, serta kedekatan cerita dengan kultur masyarakat justru menjadi nilai jual yang autentik.
Awien mengajak seluruh konten kreator, baik pemula maupun yang sudah expert, untuk meluruskan niat sebelum menekan tombol unggah. Popularitas, jumlah like, dan jutaan pengikut hanyalah bonus temporal.
“Fokuslah pada kualitas konten. Sebelum mengunggah, tanyakan pada diri sendiri. Apakah konten ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa orang pada kebaikan? Jadikan media sosial sebagai ladang amal jariyah, bukan sekadar tempat mencari panggung popularitas,” pungkasnya. []
