Parade Sound System Aceh Hadir di Taman Budaya, Adu Kekuatan dan Kejernihan Suara

Parade Sound System Aceh Hadir di Taman Budaya, Adu Kekuatan dan Kejernihan Suara
Ketua Komunitas Sound System Aceh, Zakiyun Fuadi. [Foto: Dok. pribadi]

Mediasatunews.com | Banda Aceh – Perangkat tata suara menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan di Aceh. Kualitas audio yang baik diperlukan agar setiap pesan yang disampaikan dapat terdengar jelas oleh masyarakat.

Dalam kegiatan seperti ceramah agama, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, hingga Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), penggunaan perangkat sound system tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan suara. Kejernihan dan keseimbangan audio juga menjadi faktor penting untuk memastikan suara dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Untuk menguji kemampuan perangkat tata suara tersebut, Komunitas Sound System Aceh akan menyelenggarakan Parade Sound System Aceh di Taman Budaya Banda Aceh, Kamis (22/10/2026), mulai pukul 10.00 WIB.

Ajang ini mempertemukan para pegiat dan pelaku usaha sound system untuk mempertandingkan kemampuan perangkat audio dalam menghasilkan suara yang kuat sekaligus jernih.

Ketua Komunitas Sound System Aceh, Zakiyun Fuadi, mengatakan kompetisi tersebut memiliki konsep berbeda dengan fenomena sound horeg yang belakangan viral di media sosial.

Menurutnya, Parade Sound System Aceh tidak hanya berorientasi pada besarnya tekanan suara, tetapi juga mengedepankan kualitas audio yang relevan dengan kebutuhan berbagai kegiatan masyarakat.

“Kegiatan kita ini tidak sama seperti sound horeg. Kita ada dua kategori lomba, yaitu clarity (kompetisi sistem tata suara yang menilai kejernihan, detail, dan pemisahan frekuensi suara), dan lomba sound pressure level (kompetisi adu kekuatan, kualitas, dan tekanan gelombang suara yang dihasilkan),” kata Zakiyun, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, kategori clarity menjadi salah satu aspek penting dalam perlombaan mengingat banyaknya kegiatan keagamaan di Aceh yang membutuhkan kualitas suara jernih, terutama dakwah dan MTQ.

Sementara itu, kategori sound pressure level (SPL) difokuskan pada pengujian tingkat tekanan suara yang mampu dihasilkan oleh perangkat audio.

Kendati mempertandingkan kekuatan suara, Zakiyun menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak mengusung konsep hiburan sound horeg sebagaimana yang kerap ditampilkan dalam berbagai video di media sosial.

Dalam menentukan pemenang, panitia telah menyiapkan dewan juri yang akan melakukan penilaian sesuai dengan ketentuan masing-masing kategori.

Khusus perlombaan SPL, pengukuran tingkat tekanan suara akan menggunakan dua alat ukur untuk mengetahui kemampuan perangkat yang dipertandingkan.

Zakiyun menyebutkan, sebanyak 22 peserta telah terdaftar untuk mengikuti kompetisi tersebut. Mereka terbagi dalam dua kelompok berdasarkan jenis penempatan perangkat pengeras suara.

Sebanyak delapan peserta akan bersaing pada kelompok speaker gantung atau line array, sedangkan 14 peserta lainnya mengikuti kelompok speaker ground stage.

Menurut Zakiyun, kompetisi ini menjadi kesempatan bagi para pegiat dan pelaku usaha penyewaan sound system untuk memperlihatkan kemampuan perangkat yang mereka miliki.

Selain menjadi ajang pengujian kekuatan dan kejernihan suara, Parade Sound System Aceh juga diharapkan dapat mendorong perhatian para pelaku usaha terhadap kualitas tata suara dalam mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan di Aceh. []