Mediasatunews.com | Takengon – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh (LKC DD Aceh) mendampingi pemulihan gizi balita di Desa Jongok Meluem dan Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, melalui Program Pos Gizi dalam rangka pemulihan pascabencana.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah demonstrasi memasak selama enam hari, pada 12–17 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan orang tua dalam mengolah dan menyajikan makanan bergizi seimbang dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia.
Program Pos Gizi menyasar balita dengan berat badan kurang. Salah satu targetnya adalah peningkatan berat badan sebesar 300 gram selama tiga bulan pendampingan. Program ini juga menerapkan pendekatan Positive Deviance untuk menggali dan mengembangkan praktik positif dalam pengasuhan serta pemberian makan anak.
Sebelum program berjalan, tim LKC DD Aceh bersama Puskesmas Kebayakan dan perangkat desa melakukan skrining gizi balita. Tahapan selanjutnya meliputi Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), penelusuran praktik pengasuhan positif, diskusi kelompok terarah, serta pelatihan kader Pos Gizi.
Di Desa Jongok Meluem, sebanyak 22 balita menjadi sasaran awal demonstrasi memasak. Sebanyak 17 balita mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.
Sementara itu, di Desa Mendale, dari 72 balita yang ada, sebanyak 61 balita telah terdata di Posyandu. Dari jumlah tersebut, 12 balita teridentifikasi mengalami gizi kurang dan seluruhnya menyatakan kesediaan mengikuti pendampingan melalui Program Pos Gizi.
Program ini melibatkan ibu balita, kader, bidan desa, dan perangkat desa untuk mendukung penerapan pola pemberian makan yang lebih baik serta pemantauan perkembangan gizi anak.
Ajarkan Variasi Menu untuk Anak yang Sulit Makan
Kesulitan makan atau gerakan tutup mulut (GTM) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi orang tua balita. Melalui demonstrasi memasak, para ibu bersama kader mempraktikkan pengolahan makanan bergizi seimbang dengan variasi menu dan penyajian yang lebih menarik bagi anak.
Berdasarkan pengalaman yang disampaikan peserta, beberapa anak mulai menunjukkan ketertarikan terhadap makanan setelah orang tua mencoba memodifikasi menu dan cara penyajiannya.
Fasilitator Program Pos Gizi Aceh Tengah, Rahmah, S.Tr.Gz., mengatakan pendampingan tidak hanya berfokus pada makanan yang diberikan kepada anak, tetapi juga pada perubahan perilaku orang tua dalam pengasuhan dan pemberian makan.
“Melalui Program Pos Gizi, kami ingin membantu ibu balita memahami bahwa makanan bergizi dapat diolah dengan cara yang lebih bervariasi dan menarik bagi anak. Kami juga mendorong agar praktik pengasuhan dan pemberian makan yang positif dapat diterapkan oleh orang tua di rumah. Dengan pendampingan selama tiga bulan, kami berharap upaya ini dapat mendukung pemulihan gizi balita secara berkelanjutan,” ujar Rahmah.
Salah seorang ibu balita peserta mengaku mendapatkan pengetahuan baru untuk mengatasi kesulitan makan yang dialami anaknya.
“Sebelumnya anak saya susah makan, jadi saya sering bingung harus memberikan makanan seperti apa. Setelah mengikuti demo masak, saya mendapat ide untuk mengolah dan menyajikan makanan dengan cara yang lebih menarik. Anak juga mulai tertarik untuk makan. Ilmu yang didapat ini ingin saya terapkan terus di rumah,” tuturnya.
Pendampingan Berlanjut Selama Tiga Bulan
Demonstrasi memasak menjadi tahap awal dari pendampingan selama tiga bulan. Pada tahap berikutnya, keluarga akan menerima paket bahan pangan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi balita serta mengikuti edukasi gizi setiap minggu.
Orang tua juga didorong menerapkan pengetahuan yang diperoleh di rumah. Mereka diminta menyiapkan makanan untuk anak dan mendokumentasikan kegiatan makan melalui foto sebagai bagian dari pemantauan selama pendampingan.
Kepala Wilayah LKC Dompet Dhuafa Aceh, Arfan Ramadhan, mengatakan pemulihan gizi anak membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan.
“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang memulihkan fasilitas, tetapi juga memastikan keluarga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjaga kesehatan, termasuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Karena itu, pendampingan keluarga, edukasi rutin, dan keterlibatan kader menjadi penting agar perubahan praktik pemberian makan dapat berlanjut di rumah,” ujar Arfan.
Melalui program ini, LKC DD Aceh berharap kolaborasi dengan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dan keluarga dapat memperkuat upaya pemulihan gizi balita di wilayah terdampak bencana.[]






