BANDA ACEH – Kominfo menyelenggarakan kelas Literasi Digital dengan komunitas disabilitas dan pendamping di Banda Aceh, Selasa, 29 Marer 2022.
Dengan adanya literasi digital, kelompok disabilitas juga dapat berpikir kritis terhadap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinator Literasi Digital Kementerian Kominfo, Rizki Ameliah mengatakan, kegiatan ini merupakan kerja sama dengan kelompok difabel dan Pemerintah Aceh, dan ini merupakan yang pertama dilakukan setelah pandemi.
“Tidak ada perbedaan antara difabel dan masyarakat umum lainnya. Karena Pemerintah tidak hanya bertindak sebagai regulator, tapi juga menjadi fasilitator untuk mencerdaskan bangsa,” kata Rizki Ameliah dalam Acara Talkshow, Selasa, (29/3).
Kata Rizki, edukasi dan perkembangan teknologi dan informasi sudah dilakukan Pemerintah sejak tahun 2009 atau sejak berkembangnya internet di Indonesia.
“Dulu namanya masih sosialisasi dibidang teknis, tidak ada namanya literasi digital tahun 2017 kita menggabungkannya,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Siberkreasi, Mira Sahid menyebutkan, Literasi Digital membuka banyak peluang untuk diasah setiap individu.
Begitupun dengan penyandang disabilitas, ruang digital diharapkan tidak menjadi kendala namun justru dapat mengasah banyak skill dan kreativitas.
“Dengan literasi digital, diharapkan kawan-kawan dapat memahami teknologi informasi dengan baik dan benar,” kata Mira.
Selanjutnya kata Mira, skill literasi digital ini juga terkait dengan kompetensi yang harus kita pahami baik dari segi akses, pengetahuan, kemudian distribusi konten.
“Ada 4 pilar literasi digital yang harus dipahami oleh masyarakat yaitu kecakapan digital, keamanan digital, etika digital, dan budaya digital,” jelasnya.
Selain itu, dengan era globalisasi seperti saat ini sudah banyak masyarakat yang menerima manfaat dari digital literasi atau ruang digital.
Aldi, salah seorang difabel yang sudah melek terhadap ruang digital sejak 2007 mulai dari Facebook, Google, hingga Shopee, merasa dimudahkan untuk berkomunikasi dan transaksi.
“Alhamdulillah kebutuhanku terpenuhi berkat digital teknologi seperti saat ini di Banda Aceh sudah ada ojol yang memudahkan saya bepergian,” kata Aldi.
Ia mengeluhkan, dulu sebelum dunia ruang digital belum berkembang seperti saat ini jika ingin bepergian ia harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer karena tidak bisa berkendara dengan keterbatasan fisiknya.
Selain itu, dalam hal berbelanja juga memudahkannya melakukan transaksi, sebab ia tidak harus lagi ke toko dan mengantri lama tentu ini membuat dia lebih menghemat waktu dan biaya transportasi.
“Saya juga memanfaatkan teknologi seperti media sosial untuk membagikan konten-konten keseharian saya dan merasakaan manfaat teknologi,” tutupnya.
