Cegah Judi Online, Pemuda PAS Aceh Dorong Pembinaan Generasi Berbasis Agama

Cegah Judi Online, Pemuda PAS Aceh Dorong Pembinaan Generasi Berbasis Agama

Mediasatunews.com | Jakarta – Ketua Umum Pemuda Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh Tgk. H. Fajri M. Isa, bertemu dengan anggota DPD RI asal Aceh, Tgk. Ahmada, untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda Aceh.

Pertemuan tersebut berlangsung di Edwin Kopi Aceh, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (5/10/2026). Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda Aceh.

Fajri mengatakan persoalan generasi muda Aceh perlu dibahas secara lebih mendasar. Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal dan lapangan pekerjaan, tetapi juga kualitas kehidupan, karakter, serta ketahanan moral dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Ia menyoroti fenomena sebagian anak muda yang menghabiskan banyak waktu di warung kopi, kecanduan gim daring, hingga terjerumus dalam judi daring. Menurutnya, teknologi semestinya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri, bukan menjadi sarana yang menghabiskan waktu dan merusak masa depan.

“Anak muda kita memiliki energi yang besar. Pertanyaannya adalah energi itu diarahkan ke mana. Jangan sampai masa muda habis di warung kopi, kecanduan gim daring, bahkan terjerumus ke judi daring. Kita harus memikirkan bagaimana energi besar anak muda ini diarahkan kepada ilmu, keterampilan, kreativitas, dan pengabdian,” kata Fajri.

Namun, Fajri menegaskan persoalan generasi muda Aceh tidak boleh berhenti pada isu gim dan judi daring. Menurutnya, hal yang lebih fundamental adalah memastikan generasi muda Muslim memiliki bekal keagamaan yang memadai sebelum memasuki kehidupan dewasa.

Karena itu, ia mendorong agar pendidikan generasi muda Aceh diarahkan pada penguasaan kewajiban fardu ain dan pemahaman mengenai tanggung jawab fardu kifayah.

“Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana anak-anak muda Aceh kita selesai dengan urusan fardu ain dan fardu kifayah. Fardu ain yang menjadi kewajiban setiap Muslim, terutama dalam persoalan akidah, ibadah, dan akhlak, mestinya sudah tuntas ketika mereka menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah atau SMA,” ujarnya.

Menurut Fajri, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari ijazah, nilai akademik, atau kemampuan memasuki perguruan tinggi. Pendidikan juga harus melahirkan generasi yang mengetahui kewajibannya kepada Allah, memiliki akhlak yang baik, dan memahami tanggung jawab terhadap masyarakat.

“Jangan sampai seorang anak sudah lulus Aliyah atau SMA, tetapi persoalan dasar tentang bagaimana beribadah dengan benar, bagaimana menjaga akidah, dan bagaimana berakhlak sebagai seorang Muslim masih belum selesai. Ini harus menjadi pekerjaan besar kita bersama,” katanya.

Ia menilai Aceh memiliki modal kuat untuk membangun sistem pendidikan tersebut melalui tradisi pendidikan dayah yang telah berlangsung lama. Karena itu, menurutnya, kekuatan pendidikan formal, dayah, keluarga, masjid, dan organisasi kepemudaan perlu dipertemukan dalam satu visi pembinaan generasi.

Di sisi lain, pemahaman tentang fardu kifayah juga perlu diperkuat. Anak muda Aceh tidak cukup hanya dibekali kemampuan menjalankan kewajiban pribadi, tetapi juga harus dipersiapkan menjadi generasi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

“Kalau fardu ain berkaitan dengan kewajiban setiap pribadi, maka fardu kifayah mengajarkan kepada kita bahwa masyarakat membutuhkan orang-orang yang mengambil tanggung jawab. Kita membutuhkan ulama, guru, dokter, ekonom, ahli teknologi, pengusaha, birokrat, pemimpin, dan berbagai profesi lainnya yang bekerja untuk kemaslahatan masyarakat,” jelas Fajri.

Karena itu, ia menilai pendidikan agama dan pendidikan umum tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus saling menguatkan. Generasi muda Aceh perlu memiliki fondasi agama yang kokoh sekaligus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan kemampuan profesional.

Menurutnya, generasi ideal Aceh ke depan adalah generasi yang kuat akidahnya, benar ibadahnya, baik akhlaknya, luas ilmunya, memiliki keterampilan, dan siap mengambil tanggung jawab sosial.

“Kalau kita berhasil membangun generasi seperti ini, insyaallah persoalan gim daring, judi daring, budaya membuang waktu, dan berbagai persoalan lainnya akan lebih mudah kita hadapi. Sebab, kita tidak hanya melarang anak muda melakukan sesuatu, tetapi memberikan mereka tujuan hidup dan ruang untuk berbuat sesuatu yang lebih besar,” ungkapnya.

Fajri berharap gagasan tersebut menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, orang tua, organisasi kepemudaan, serta para wakil Aceh di tingkat nasional.

Sementara itu, Tgk. Ahmada menyambut baik pembahasan mengenai persoalan generasi muda tersebut. Menurutnya, pemuda merupakan salah satu kekuatan penting dalam menentukan arah masa depan Aceh sehingga berbagai gagasan dari kalangan pemuda perlu terus dikomunikasikan dan dicarikan ruang kolaborasinya.

Ia mengatakan keberadaan wakil Aceh di tingkat nasional juga perlu terus terhubung dengan aspirasi dan pemikiran generasi muda di daerah maupun perantauan.

“Pemuda adalah bagian penting dari masa depan Aceh. Karena itu, komunikasi seperti ini harus terus dibangun. Gagasan-gagasan pemuda Aceh harus kita dengarkan, terutama gagasan yang berkaitan dengan pendidikan, pembinaan generasi, dan masa depan Aceh,” ujar Tgk. Ahmada.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk terus menjaga komunikasi dan membuka ruang kolaborasi dalam berbagai agenda yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia Aceh.

Bagi Pemuda PAS Aceh, pembinaan generasi bukan sekadar agenda organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi Aceh yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi agama dan identitas keislamannya.[]

Exit mobile version