Mediasatunews.com | Jakarta – Ratu Thailand, Suthida, mencatatkan pengalaman bersejarah setelah berhasil menerbangkan jet tempur JAS 39C Gripen seorang diri untuk pertama kalinya.
Aksi tersebut disaksikan langsung oleh suaminya, Raja Maha Vajiralongkorn, yang juga memiliki keahlian sebagai pilot.
Berdasarkan rekaman yang dirilis pihak istana, Suthida yang kini berusia 48 tahun menerbangkan jet tempur berkursi tunggal itu dari pangkalan udara militer di Provinsi Surat Thani, Thailand selatan, pada Kamis (8/10/2026).
Penerbangan solo tersebut merupakan bagian dari proses pelatihan yang telah dijalaninya. Sebelum menerbangkan pesawat tanpa pendamping, Suthida mengikuti latihan simulator selama beberapa pekan.
Ia juga telah mengantongi sekitar 10 jam pengalaman terbang menggunakan Gripen berkursi ganda.
Kemampuan Suthida di kokpit pesawat bukan diperoleh dalam waktu singkat. Sebelum menjadi anggota keluarga kerajaan, ia pernah bekerja sebagai pramugari Thai Airways.
Ketertarikannya pada dunia penerbangan berkembang sejak 2010, dan hingga kini ia telah mencatatkan hampir 1.190 jam terbang.
Suthida juga beberapa kali mendampingi Raja Vajiralongkorn sebagai kopilot dalam perjalanan kerajaan. Salah satu penerbangan yang pernah mereka jalani adalah menuju Bandara Paro di Bhutan, yang dikenal memiliki tantangan tersendiri bagi penerbang karena kondisi geografis dan medan pendaratannya.
Keberhasilan penerbangan solo itu disambut langsung oleh sang raja. Setelah Suthida mendarat, Vajiralongkorn memberikan buket bunga sebagai bentuk apresiasi. Ia kemudian menyematkan lencana Golden Gripen Order pada lengan kiri sang ratu.
Penyematan tersebut menandai pencapaian Suthida sebagai perempuan pertama di Thailand yang menerbangkan jet tempur Gripen secara solo.
Suthida menikah dengan Vajiralongkorn pada 2019, beberapa hari sebelum sang raja menjalani upacara penobatan.
Di sisi lain, Angkatan Udara Thailand saat ini mengoperasikan satu skuadron jet tempur Gripen C/D yang diproduksi Saab, perusahaan pertahanan asal Swedia.
Thailand juga melanjutkan modernisasi armada udaranya melalui kesepakatan pembelian pesawat tempur generasi terbaru.
Pada tahun lalu, negara tersebut menandatangani kontrak senilai sekitar 556 juta dolar AS untuk pengadaan tiga unit Gripen E dan satu unit Gripen F.
Keempat pesawat tersebut dijadwalkan dikirim secara bertahap hingga 2030. []
