Mediasatunews.com | Banda Aceh – Organisasi pemerintahan tidak cukup hanya bergerak dan menyelesaikan pekerjaan rutin. Setiap unit kerja perlu memastikan seluruh aktivitas memiliki tujuan yang jelas, kepemimpinan yang bertanggung jawab, sinergi yang kuat, serta kemampuan mengeksekusi rencana hingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Setda Aceh, Dr. Yusrizal Zainal, M.Si., saat menjadi pembina apel pagi di halaman Kantor Gubernur Aceh, Senin (10/8/2026).
Dalam arahannya, Yusrizal mengajak jajaran aparatur di lingkungan Setda Aceh untuk terus melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Menurutnya, tuntutan terhadap birokrasi semakin tinggi sehingga aparatur pemerintah tidak boleh merasa cukup hanya karena pekerjaan rutin telah diselesaikan.
“Kita perlu terus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari organisasi pemerintahan,” ujarnya.
Untuk menggambarkan bagaimana organisasi dapat bekerja secara lebih terarah dan efektif, Yusrizal memperkenalkan kerangka sederhana yang disebut GLUE, akronim dari Goal, Leadership, Unity, dan Execution.
Goal, Organisasi Harus Memiliki Tujuan yang Jelas
Yusrizal menjelaskan, unsur pertama dalam GLUE adalah Goal atau tujuan. Menurutnya, organisasi yang bergerak tanpa memahami tujuan akan mudah kehilangan arah. Berbagai aktivitas yang terlihat sibuk belum tentu membawa organisasi mendekati hasil yang ingin dicapai.
“Gerak tanpa tujuan akan kehilangan arah. Karena itu, organisasi yang telah memiliki tujuan yang jelas sebenarnya telah menyelesaikan salah satu tugas awal yang paling penting,” katanya.
Tujuan yang jelas, lanjutnya, menjadi dasar dalam menentukan prioritas. Dengan tujuan tersebut, aparatur dapat membedakan pekerjaan yang benar-benar penting dan berdampak bagi masyarakat dengan aktivitas yang hanya menghabiskan waktu dan energi.
Setiap Tingkatan Memiliki Peran Kepemimpinan
Unsur kedua dalam GLUE adalah Leadership atau kepemimpinan.
Yusrizal mengatakan keberadaan pemimpin sangat menentukan perjalanan sebuah organisasi karena berfungsi mengarahkan, mengendalikan, sekaligus memastikan organisasi tetap bergerak menuju tujuan.
Namun, menurutnya, kepemimpinan tidak hanya berada pada posisi tertinggi dalam struktur organisasi. Pada setiap tingkatan terdapat peran kepemimpinan sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, seorang aparatur tidak seharusnya bersikap pasif dan hanya menunggu instruksi.
“Pada setiap level sebenarnya ada leader. Kepemimpinan berarti berani mengambil tanggung jawab penuh terhadap apa yang menjadi kewenangannya, bukan sekadar menunggu arahan,” jelasnya.
Cara pandang tersebut, menurut Yusrizal, penting untuk membangun birokrasi yang responsif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap tugas. Dengan demikian, setiap pejabat maupun staf memahami bahwa kualitas organisasi juga sangat ditentukan oleh kualitas tanggung jawab individu di dalamnya.
Potensi Menjadi Kekuatan Jika Bersatu
Prinsip ketiga adalah Unity, yakni kesatuan, integrasi, sinergi, dan koordinasi.
Menurut Yusrizal, sebuah organisasi dapat memiliki banyak sumber daya, orang-orang yang kompeten, serta berbagai program yang baik. Namun, seluruh potensi tersebut belum tentu menjadi kekuatan apabila berjalan sendiri-sendiri.
“Unity-lah yang mengubah potensi menjadi kekuatan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya mengurangi ego sektoral serta memperkuat koordinasi antarbiro, antarbagian, dan antarpegawai.
Dalam pemerintahan, banyak persoalan masyarakat yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu unit kerja. Karena itu, kemampuan mengintegrasikan berbagai sumber daya menjadi semakin penting.
Rencana Bernilai Ketika Dieksekusi
Unsur terakhir adalah Execution atau eksekusi.
Yusrizal mengingatkan bahwa rencana yang baik tidak otomatis menghasilkan perubahan. Dokumen, rapat, konsep, dan program baru akan benar-benar dirasakan dampak serta manfaatnya ketika diterjemahkan menjadi pelaksanaan yang baik di lapangan.
“Pada akhirnya, sesuatu yang kita rencanakan baru akan dirasakan manfaatnya ketika sampai pada tahap eksekusi dan dieksekusi dengan baik,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, birokrasi harus memiliki budaya menuntaskan pekerjaan, bukan berhenti pada tahap perencanaan.
Pada bagian akhir arahannya, Yusrizal mengingatkan bahwa menjadi aparatur sipil negara (ASN), terlebih ketika mengemban jabatan tertentu, bukanlah tanggung jawab yang ringan.
Jabatan tersebut merupakan amanah yang tidak hanya memiliki konsekuensi administratif, tetapi juga menyangkut tanggung jawab kepada masyarakat.
Bagi seorang Muslim, katanya, amanah tersebut bahkan memiliki dimensi pertanggungjawaban yang lebih jauh, yakni di dunia dan akhirat.
Karena itu, kerangka GLUE dapat digunakan sebagai pendekatan sederhana untuk membantu aparatur menjalankan amanah tersebut secara lebih baik.
Goal menjaga aparatur tetap fokus pada tujuan pelayanan, Leadership mendorong keberanian mengambil tanggung jawab, Unity menyatukan kekuatan organisasi, sedangkan Execution memastikan seluruh rencana benar-benar menghasilkan manfaat.
“Pada akhirnya, kita harus tetap fokus kepada tujuan utama, yaitu melayani dan menebarkan kemaslahatan kepada rakyat, dilakukan secara terukur, sinergis, dan efektif, sesuai dengan syariah,” pungkas Yusrizal.[]
