Diguyur Hujan, Ditegakkan Nurani Mualem Basah Bersama 5.486 PPPK, Janji yang Akhirnya Menjadi Takdir

Diguyur Hujan, Ditegakkan Nurani Mualem Basah Bersama 5.486 PPPK, Janji yang Akhirnya Menjadi Takdir

Hujan turun deras di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Kamis, 29 Januari 2026. Langit seolah runtuh, membasahi ribuan tubuh yang berdiri menunggu dengan harap. Namun tak satu pun langkah dihentikan. Di tengah guyuran hujan, Muzakir Manaf, Gubernur Aceh yang akrab disapa Mualem, tetap melangkah maju menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada 5.486 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Tak ada payung istimewa. Tak ada jarak. Mualem memilih basah bersama mereka. Bagi Mualem, hujan yang membasahi tubuh bukanlah apa-apa.

Yang jauh lebih penting adalah nasib ribuan keluarga yang hari itu menggantungkan masa depan pada selembar SK. “Ini tentang jantung kehidupan mereka,” kata nurani yang terbaca dari sikapnya. Wajah-wajah lelah berubah menjadi senyum. Mata-mata yang lama menahan cemas kini berkaca-kaca. Ketika Mualem tiba di lokasi, hujan seakan kehilangan kuasanya. Para penerima SK menyambut dengan haru bukan hanya karena keputusan administratif, tetapi karena kehadiran seorang pemimpin yang memilih berdiri di tengah badai, bukan berlindung darinya. Peristiwa hari ini adalah ujung dari perjalanan panjang. Perjuangan itu tak singkat: bolak-balik ke Jakarta, mengetuk pintu-pintu kebijakan, memperjuangkan nasib PPPK paruh waktu yang kerap terpinggirkan.

Hari ini, 29 Januari 2026, mimpi itu menjadi nyata. Perjuangan itu berbuah hasil. Inilah sosok Mualem tak banyak bicara, namun bekerja. Tak menonjolkan diri, namun menghadirkan dampak. Sebagai orang nomor satu di Aceh, ia memilih menunjukkan kepedulian dengan tindakan nyata. Hujan boleh deras, tetapi tekad lebih deras lagi. “Terima kasih, Mualem. Atas perjuangan yang akhirnya terwujud. Hari ini kami pulang membawa harapan, dan merayakannya bersama keluarga tercinta,” ujar salah satu penerima SK, suaranya bergetar, air mata bercampur hujan. Di Stadion Harapan Bangsa, hujan hari itu bukan sekadar cuaca. Ia menjadi saksi: tentang janji yang ditepati, tentang pemimpin yang hadir, dan tentang ribuan mimpi yang akhirnya menemukan rumahnya.

Exit mobile version