Mediasatunews.com | Banda Aceh – Tastafi Banda Aceh menggelar kajian aktual bertema “Pengembangan Dakwah Tastafi: Tantangan dan Solusinya di Dalam dan Luar Negeri” digelar di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin (18/5/2026) malam. Kegiatan tersebut membahas penguatan dakwah Islam berorientasi global di tengah perkembangan era digital.
Kajian menghadirkan dai dan akademisi internasional, Dr. Teuku Chalidin Yacob, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu moderator Tgk Alwy Akbar Al Khalidi, kandidat doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, yang aktif berdakwah di Aceh dan Medan.
Turut hadir Ketua Tastafi Banda Aceh, Tgk H Umar Rafsanjani, serta Koordinator Kajian Tastafi Hotel, Tgk Muhammad Balia.
Dalam pemaparannya, Dr Teuku Chalidin Yacob menegaskan bahwa dakwah Islam saat ini memasuki fase globalisasi yang ditandai perkembangan teknologi, mobilitas lintas negara, serta dinamika masyarakat multikultural.
Dr Chalidin merupakan ulama diaspora Indonesia yang telah lebih dari 30 tahun berdakwah di Australia. Ia mendirikan Ashabul Kahfi Islamic Centre Sydney, aktif sebagai anggota Australian National Imam Council, serta menjadi penasihat syariah Australian Federation of Islamic Councils. Selain itu, ia juga memimpin Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Australia Chapter.
Di bidang akademik, Dr Chalidin dikenal sebagai peneliti sejarah Islam yang mengkaji jejak pelaut Muslim Bugis-Makassar di Australia. Kajian tersebut dinilai memperkaya perspektif sejarah interaksi Islam di kawasan Asia-Pasifik.
Dengan pengalaman dakwah, organisasi, dan akademik tersebut, Dr Chalidin dinilai sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan dakwah Islam di dunia Barat.
“Dakwah masa kini harus mampu menjawab tantangan global dengan strategi kolaboratif, penguatan generasi muda, serta pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah tantangan dakwah kontemporer turut dibahas, di antaranya perubahan karakter generasi muda di era digital, arus globalisasi pemikiran dan budaya, kompleksitas masyarakat multikultural, serta kebutuhan ekspansi dakwah lintas negara.
Meski demikian, tantangan tersebut dinilai sebagai peluang strategis untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus memperkuat kontribusi umat Islam dalam peradaban global.
Kajian juga menekankan pentingnya kolaborasi antara ulama, akademisi, generasi muda, dan komunitas diaspora Muslim dalam mengembangkan dakwah global.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semangat dakwah dari Aceh dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam di tingkat global, sekaligus melahirkan generasi dai yang mampu membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke panggung dunia.[]
