Mediasatunews.com | Banda Aceh – Sebanyak 30 anak PAUD Thiflah, Desa Labuy, Aceh Besar, diajak mengenal tanaman atsiri dan pemanfaatannya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Edukasi Kewirausahaan dan Pemanfaatan Produk Berbasis Atsiri untuk Kesehatan pada Anak Usia Dini”, Rabu (2/9/2026).
Mengusung tema “Atsiri untuk Generasi Kreatif: Edukasi Kesehatan dan Kewirausahaan Sejak Dini”, kegiatan tersebut berfokus pada pengenalan tanaman atsiri, seperti kayu putih, nilam, dan peppermint, serta pemanfaatannya sebagai bahan produk aromaterapi dan kesehatan.
Kegiatan perdana itu dikemas dengan pendekatan belajar sambil bermain agar sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Pengenalan tanaman atsiri dilakukan melalui video animasi. Anak-anak diperkenalkan dengan tanaman kayu putih, nilam, dan tanaman atsiri lainnya, minyak yang dihasilkan, serta pemanfaatannya dalam berbagai produk.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik pembuatan lilin aromaterapi yang menjadi salah satu aktivitas utama.
Dengan didampingi tim pengabdian dan guru, anak-anak dilibatkan dalam tahapan yang aman, seperti mencampurkan pewarna, minyak atsiri, dan aroma ke dalam bahan yang telah disiapkan. Untuk menjaga keselamatan, larutan lilin yang masih panas dituangkan ke dalam wadah oleh tim pengabdian.
Anak-anak kemudian mengamati proses hingga lilin mengering sebelum menghiasnya menjadi lilin aromaterapi hasil karya mereka.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari anak-anak. Mereka terlihat antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari mencoba mencampurkan bahan, mengamati perubahan lilin, hingga menghias hasil karya.
Aktivitas itu sekaligus memberikan pengalaman kepada anak bahwa bahan yang berasal dari tanaman dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki aroma dan kegunaan.
Selain membuat lilin aromaterapi, anak-anak juga menyaksikan demonstrasi pembuatan minyak angin dengan campuran minyak kayu putih. Tim pengabdian memperkenalkan secara sederhana bahwa minyak kayu putih dan nilam dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam pengembangan produk aromaterapi dan kesehatan.
Anak-anak juga dikenalkan pada minyak angin sebagai produk yang memberikan sensasi hangat dan aroma yang menenangkan serta dapat digunakan untuk memberikan rasa nyaman ketika tubuh mengalami keluhan ringan.
Kolaborasi tersebut melibatkan akademisi lintas disiplin, yakni Gracia Mandira dari PG-PAUD, Dewi Suryani Sentosa dari bidang Ekonomi, serta Cantika Dwi Riski dan Agnia Purnama dari MIPA Kimia. Kegiatan itu juga melibatkan lima mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam, yakni Newa, Nadira, Siti Humaira, Tijani, dan Raisha.
Gracia Mandira, dosen Pendidikan Anak Usia Dini, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mendekatkan anak dengan potensi sumber daya alam di lingkungan sekitar melalui pengalaman yang sederhana dan menyenangkan.
“Kami ingin mengenalkan atsiri kepada anak-anak bukan dalam bentuk teori yang sulit, tetapi melalui pengalaman langsung. Anak-anak dapat melihat, mencoba, membuat, dan menghias produk sendiri. Dari proses sederhana ini, kami berharap mereka mulai mengenal bahwa tanaman di sekitar kita dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Gracia menambahkan, edukasi kewirausahaan dalam program tersebut diberikan secara bertahap dan disesuaikan dengan dunia anak. Menurutnya, pada usia dini, kewirausahaan tidak diarahkan pada aktivitas jual beli, tetapi pada pembentukan kreativitas, kemandirian, rasa ingin tahu, dan pengalaman menghasilkan sebuah karya.
“Kewirausahaan untuk anak usia dini bukan berarti mengajarkan anak untuk berjualan, tetapi menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kemampuan menghasilkan karya, serta mengenalkan proses bagaimana sebuah ide dan bahan dapat menjadi produk yang bernilai. Kami ingin menanamkan fondasinya sejak dini melalui aktivitas bermain dan berkarya,” tambahnya.
Kepala PAUD Thiflah, Maria Azannita, S.Pd.Gr., menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru kepada anak-anak melalui aktivitas yang dekat dengan dunia bermain mereka.
“Anak-anak terlihat sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Mereka tertarik ketika melihat proses pembuatan lilin dan semakin senang ketika dapat menghias hasil karya mereka sendiri. Kegiatan seperti ini membuat anak belajar sambil bermain dan mendapatkan pengalaman baru,” ungkap Maria.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan guru dalam mendampingi anak selama kegiatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim pengabdian dari Universitas Syiah Kuala. Anak-anak mendapatkan pengetahuan baru tentang tanaman nilam dan pemanfaatannya, sementara guru juga mendapatkan pengalaman dalam mendampingi kegiatan pembelajaran yang kreatif dan menarik bagi anak,” tuturnya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dosen lintas fakultas di Universitas Syiah Kuala. Tim terdiri atas Dewi Suryani Sentosa, S.Sy., M.E., dari Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK, sebagai ketua tim; Gracia Mandira, S.Pd., M.Ed., dari Departemen PG-PAUD, FKIP USK; Agnia Purnama, S.Si., M.Si., dari Program Studi S1 Kimia, FMIPA USK; serta Dr. Fifi Yusmita, S.E., M.Si., CIISA., CIFA., CHRA., CRMP., dari Program Studi S1 Akuntansi, FEB USK, sebagai anggota.
Kegiatan tersebut turut melibatkan lima mahasiswa USK. Sebanyak lima guru dan kepala sekolah juga mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung.
Kolaborasi tersebut memungkinkan edukasi mengenai tanaman atsiri diberikan dari berbagai perspektif, mulai dari pengenalan bahan dan pemanfaatannya, pendidikan anak usia dini, hingga pengembangan kreativitas dan kewirausahaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Teknologi Tepat Guna (PKM-TTG) yang didanai Universitas Syiah Kuala. Rangkaian kegiatan selanjutnya akan mengembangkan aspek kewirausahaan melalui aktivitas yang sesuai dengan dunia anak, termasuk praktik Market Day.
Melalui program “Atsiri untuk Generasi Kreatif”, tim pengabdian berharap anak-anak memperoleh pengalaman positif dalam mengenal tanaman nilam dan pemanfaatannya, sekaligus mulai memahami hubungan antara alam, kesehatan, kreativitas, dan pemanfaatan sumber daya lokal sejak usia dini.[]
