Mediasatunews.com | Banda Aceh – Dinas Kesehatan Aceh terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan yang menitikberatkan pada pencegahan sejak sebelum kehamilan hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Kabupaten/Kota dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga yang berlangsung di Banda Aceh.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, Ners. Yennizar, mengatakan keberhasilan menurunkan angka kematian ibu, kematian bayi, dan stunting tidak hanya bergantung pada pelayanan saat persalinan. Menurutnya, upaya tersebut perlu dimulai sejak sebelum kehamilan sebagai bagian dari menjaga kualitas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Intervensi dilakukan secara berkesinambungan mulai dari remaja putri, calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, bayi hingga balita,” kata Yennizar dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Menurut Yennizar, pendekatan tersebut mencakup pemenuhan gizi, pencegahan penyakit, deteksi dini faktor risiko, serta penanganan masalah gizi secara terpadu.
Ia menjelaskan calon pengantin dan pasangan usia subur perlu menjalani skrining layak hamil untuk mendeteksi anemia, status gizi, penyakit menular, penyakit tidak menular, gangguan kesehatan jiwa, serta faktor risiko lainnya sebelum memasuki masa kehamilan.
Secara nasional, sasaran pelayanan kesehatan reproduksi sebelum kehamilan mencakup sekitar 4 juta calon pengantin dan 43 juta perempuan pasangan usia subur.
Enam Kondisi Ideal untuk Kehamilan
Dalam paparannya, Yennizar menyebut sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat. Kondisi tersebut meliputi usia ibu 20–35 tahun, status gizi normal, tidak mengalami anemia, jumlah anak kurang dari tiga, jarak kehamilan lebih dari dua tahun, tidak memiliki riwayat kehamilan buruk, serta penyakit penyerta dalam kondisi terkontrol.
Selain itu, ibu hamil didorong menjalani pemeriksaan antenatal care (ANC) minimal enam kali selama kehamilan, terdiri atas satu kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga.
“Dua dari enam kunjungan tersebut dilakukan oleh dokter, termasuk pemeriksaan ultrasonografi (USG) obstetri dasar terbatas. Pelayanan ANC juga meliputi 12 komponen pemeriksaan, mulai dari status gizi, tekanan darah, pemeriksaan laboratorium, pemberian tablet tambah darah, konseling hingga skrining kesehatan jiwa,” ujarnya.
Yennizar menambahkan, deteksi dini komplikasi kehamilan, termasuk risiko preeklamsia, menjadi bagian penting dalam pelayanan. Ibu hamil yang teridentifikasi berisiko harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut untuk mendapatkan penanganan sesuai standar.
Pencegahan Stunting Dimulai dari Remaja
Dalam upaya pencegahan stunting, Dinas Kesehatan Aceh juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa remaja.
Remaja putri didorong menjalani skrining anemia, mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin, serta mendapatkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi.
Sementara itu, ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis (KEK) atau berisiko KEK mendapatkan makanan tambahan berbahan pangan lokal selama minimal 120 hari.
Setelah bayi lahir, intervensi dilanjutkan melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, makanan pendamping ASI (MP-ASI) kaya protein hewani mulai usia enam bulan, imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan setiap bulan di Posyandu.
Balita yang mengalami gangguan pertumbuhan juga mendapatkan makanan tambahan sesuai dengan tingkat masalah gizinya, disertai penanganan dan rujukan apabila diperlukan.
Yennizar turut menekankan pentingnya skrining bayi baru lahir untuk mendeteksi sejumlah kondisi, antara lain hipotiroid kongenital, defisiensi enzim G6PD, hiperplasia adrenal kongenital, penyakit jantung bawaan kritis, serta kelainan saluran empedu.
Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan neonatal esensial untuk mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini sehingga dapat segera ditangani.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, Dinas Kesehatan Aceh mendorong pemerintah kabupaten/kota memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh, mulai dari tingkat keluarga, Posyandu, puskesmas hingga rumah sakit.
Penguatan layanan tersebut diharapkan mampu memastikan setiap faktor risiko terdeteksi dan ditangani sedini mungkin sehingga kesehatan ibu dan anak dapat terjaga serta kualitas generasi Aceh semakin baik.[]
