Cucu Sultan Aceh Kenang Perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah Melawan Portugis

Cucu Sultan Aceh Kenang Perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah Melawan Portugis

Mediasatunews.com | Banda Aceh – Cucu Sultan Aceh sekaligus Pemimpin Darud Donya, Cut Putri, mengenang perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah dalam memperkuat Kesultanan Aceh dan menghadapi Portugis pada awal abad ke-16.

Peringatan 496 tahun wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah tersebut menjadi momentum untuk mengenang sosok yang dikenal sebagai Sultan Aceh pertama yang menyatukan sejumlah wilayah Aceh dalam menghadapi ancaman Portugis.

Cut Putri mengatakan Sultan Ali Mughayat Syah memerintah sekitar 1507–1530 Masehi. Menurutnya, Sultan Ali Mughayat Syah memiliki peran penting dalam memperkuat Aceh setelah Portugis menaklukkan Malaka pada 1511.

“Sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 M, seluruh wilayah Asia Tenggara terancam. Sultan Ali Mughayat Syah bangkit dan menyatakan perlawanan serta menyatukan wilayah Aceh,” ujar Cut Putri.

Menurut sejumlah sumber sejarah, Sultan Ali Mughayat Syah naik takhta pada 913 Hijriah atau sekitar 1507 Masehi. Beberapa tahun kemudian, Portugis menyerang dan menguasai Malaka. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Kesultanan Aceh memperkuat pertahanan dan menghadapi Portugis.

Memimpin Perlawanan terhadap Portugis

Cut Putri menuturkan, Sultan Ali Mughayat Syah tercatat memimpin sejumlah perlawanan terhadap Portugis. Salah satunya terjadi pada 1519 ketika pasukan Portugis yang dipimpin Gaspar de Costa menyerang Aceh.

Menurut Cut Putri, serangan tersebut berhasil dipatahkan oleh pasukan Aceh di Kuala Aceh. Gaspar de Costa kemudian ditangkap dan dibebaskan setelah Portugis membayar tebusan.

Portugis kembali menyerang Aceh pada 1521 dengan kekuatan yang lebih besar. Pasukan Portugis dipimpin Jorge de Brito. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Aceh berhasil mengalahkan Portugis dan Jorge de Brito tewas.

Pasukan Portugis kemudian membangun basis pertahanan di Pedir. Sultan Ali Mughayat Syah bersama penguasa Pedir selanjutnya melakukan serangan terhadap basis Portugis tersebut hingga pasukan Portugis meninggalkan wilayah itu dan bergerak menuju Samudera Pasai.

Di Samudera Pasai, Portugis kembali membangun benteng pertahanan. Mengetahui kondisi tersebut, Laksamana Ibrahim, yang disebut sebagai adik Sultan Ali Mughayat Syah, menggalang kekuatan dari sejumlah wilayah Aceh.

Pasukan Samudera Pasai, Pedir, dan Aceh kemudian bergabung untuk menghadapi Portugis di benteng Samudera Pasai.

Pada 1524, pertempuran terjadi. Pasukan Aceh berhasil merebut dan menghancurkan benteng Portugis tersebut. Namun, Laksamana Ibrahim gugur dalam pertempuran.

Serangkaian Kemenangan

Setelah kemenangan di Samudera Pasai, kekuatan Kesultanan Aceh semakin besar. Berbagai perlengkapan perang yang diperoleh dari benteng Portugis turut memperkuat kemampuan militer Aceh.

Portugis kemudian kembali melancarkan serangan ke Aceh. Pada 1527, pasukan yang dipimpin Francesco de Mello menyerang Aceh, tetapi berhasil dikalahkan oleh pasukan Sultan Ali Mughayat Syah.

Setahun kemudian, Gubernur Portugis Simon de Souza kembali berupaya menyerang Aceh. Pertempuran kembali terjadi dan pasukan Aceh berhasil mengalahkan Portugis. Dalam pertempuran tersebut, Simon de Souza dilaporkan tewas dan sejumlah perwira Portugis ditangkap.

Menurut Cut Putri, rangkaian kemenangan tersebut memperkuat posisi Kesultanan Aceh di kawasan Asia Tenggara sekaligus meningkatkan kepercayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara terhadap kemampuan Aceh menghadapi Portugis.

“Sultan Ali Mughayat Syah kemudian bersiap menyerang Portugis di Malaka. Namun, beliau jatuh sakit dan wafat sebelum rencana tersebut terlaksana,” ujarnya.

Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada 12 Zulhijah 936 Hijriah atau 7 Agustus 1530 Masehi.

“Wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah ditangisi rakyat Aceh dan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Beliau dikenang sebagai sosok yang bangkit melawan Portugis pada masa awal kekuasaan Portugis di Asia Tenggara,” kata Cut Putri.

Ia mengatakan makam Sultan Ali Mughayat Syah memiliki nisan dengan ukiran yang memuat keterangan mengenai sosok dan jasa Sultan tersebut.

Menurut catatan peneliti Prancis, Ludvik Kallus dan Claude Guillot, inskripsi pada nisan Sultan Ali Mughayat Syah menyebutnya sebagai Al-Ghazi fi al-Barri wa al-Bahri, yang dimaknai sebagai sosok yang berjuang di darat dan di laut.

Inskripsi tersebut juga memuat doa agar Allah memberikan ampunan, rahmat, serta menempatkan Sultan Ali Mughayat Syah di tempat yang mulia.

Cut Putri menilai perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah kemudian diteruskan oleh para penguasa Kesultanan Aceh setelahnya, antara lain Sultan Alauddin al-Kahhar dan Sultan Iskandar Muda.

Menurutnya, perkembangan Kesultanan Aceh pada masa berikutnya menjadikan kerajaan tersebut sebagai salah satu kekuatan politik dan militer penting di kawasan Asia Tenggara.

“Semangat perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah kemudian diwariskan kepada para penerusnya. Kesultanan Aceh berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Asia Tenggara,” tuturnya.

Ia menambahkan, sejarah Kesultanan Aceh tidak dapat dilepaskan dari perannya dalam dinamika politik, perdagangan, dan perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.[]

Exit mobile version